Shalat berbahasa Indonesia : Sebuah Ijtihad ?

May 10th, 2005 by jabier

Shalat Agus Subhan, seorang sahabat saya, menanyakan bagaimana pendapat saya mengenai Shalat Dua Bahasa (Billingual, dalam bahasa Indonesia dan bahasa Arab), yang saat ini dipopulerkan oleh seorang "ulama" bernama Muhammad Usman Roy, dari Lawang, Jawa Timur. Agus, yang saya kenal memahami Islam dan ilmu-ilmunya  dengan baik, seorang santri by default dari Tuban, tentu sudah punya pendapat sendiri mengenai hal ini, dan tulisan ini saya buat sebagai sebuah bahan diskusi dengan dia.

Beberapa tahun yang lalu, seorang rekan saya pernah berujar dalam bahasa Arab : "Al-lughah al-’arabiyah hiya, al-lughah al-dirasaatul Islamiyyah, wa al-lughah al-ahlul jannah." artinya "Bahasa Arab itu, bahasa untuk memahami ilmu-ilmu Islam, dan juga bahasa para ahli surga." Anda boleh setuju atau tidak setuju dalam frasa kedua, tapi paling tidak, frasa pertama, bahwa bahasa Arab dipakai untuk memahami ilmu Islam (Qur’an, Hadits, Fiqh dll) tentulah tak dapat dibantah kebenarannya. Trus so, what gitu loh ? Mungkin teman saya yang lain bertanya.

Ini sama saja dengan analog bahwa anda harus menguasai bahasa Inggris, sebagai bahasa pergaulan dunia, bahasa ilmu pengetahuan dan lain-lain. Ada yang protes ? Tidak ada kan ! ? Kalau pun ada, Ya, silahkan, but I assure you that he will be piss off because he absolutely knows a little than he needs to be. Atau ambil contoh Rudolf Nureyev, pebalet sohor dari Russa, yang tahun pertamanya hanya belajar bahasa Perancis,–sebab bahasa Perancis adalah bahasa "pengantar" resmi dalam dunia balet–, walaupun dia orang Rusia, dan balet,..hmm,..tidak ada hubungan sama sekali dengan bahasa. So what ?

Itu masalah bahasa. Mari kita kembali ke kajian Shalat dua bahasa ini.
Usman Roy, katanya, melakukan sebuah ijtihad dalam mengambil keputusan ini. Ijtihad (terambil dari kata jahada - yujahidu - jihadan - ijtihadan) artinya "bersungguh-sungguh dan berusaha maksimal dalam melakukan suatu pekerjaan", secara istilah adalah suatu proses pengambilan keputusan dalam bidang tertentu dengan melakukan pertimbangan-pertimbangan/argumen-argumen yang dapat dipertanggunggjawabkan secara ilmiah, orang yang melakukannya disebut Mujtahid. Jadi ada ijtihad politik, ijtihad ekonomi, dan tentunya sebagai asal dari semuanya, ijtihad dalam bidang keagamaan (masaail diniyyah). Kita tentu ingat, seorang Amien Rais yang melakukan ijtihad dalam bidang politik ketika beliau membentuk partai baru PAN, instead of masuk ke PBB. Atau ijtihad ekonomi Anggiarto Abimanyu, ekonom UGM, yang mencoba teori valas baru untuk mendongkrak nilai rupiah. Dan ijtihad-ijtihad lain yang dilakukan oleh orang-orang yang ahli di bidangnya masing-masing (ambil contoh ijtihad saya untuk menggunakan FreeBSD instead of Linux dan Windows waktu di RAD-Net, ;-)).

Jadi, makna kata kesungguhan dalam etimologi ijtihad, bermakna kesungguhan dalam bidang ilmu (penguasaan ilmu), dan kesungguhan terhadap ilmu yang berkaitan dengan masalah yangyang akan diputuskan. Karena bisa jadi, ijtihad membutuhkan advis dan konsultasi dari ilmu lain (multidisipliner).

Nah, kalau dalam bidang agama ? Ini tentunya lebih "berbahaya" lagi implikasinya, karena menyangkut sisi dunia, dan akhirat. Tidak ada implikasi logis apapun bagi orang lain, kalau ijtihad saya waktu di RAD-Net ternyata salah, server crash, paling hanya menimpa customer RAD-Net saja. Tapi bagi masalah agama, dan apalagi bila kemudian disebarluaskan, diamalkan dan memiliki pengikut, tentu lain persoalannya.

Seorang mujtahid yang akan menghasilkan fatwa, jelas harus memiliki serangkaian ilmu alat (Bahasa Arab (meliputi nahwu, sharaf, manthiq, ba’di, ma’ani),Qur’an, Tafsir, Hadits, Ushul Fiqh, Fiqh, dll) dalam proses istimbath (proses pengambilan keputusan) dan harus diakui oleh otoritas ulama di zamannya. Begitulah yang kita lihat pada Syeikh Yusuf Qardhawi, Syaikh Bin Baz, Syeikh Mutawalli Sya’rawi, di zaman sekarang, atau imam-imam madzhab yang empat : Imam Syafi’i ra, Imam Malik bin Anas ra, Imam Abu Hanifah ra, dan Imam Ahmad bin Hanbal. Sebagai contoh, Imam Syafi’i baru diberi izin berfatwa oleh Imam Malik, guru beliau, saat usia 17 tahun, padahal beliau sudah hafal Quran umur 9 tahun, kitab hadits Muwatha karya Imam Malik pada usia belasan, dan ilmu-ilmu lain.

Usman Roy, jelas tidak memiliki kapasitas untuk melakukan ijtihad, yang berakhir pada keputusan Shalat Dua bahasa itu. Bagi saya, ide ini cukup kreatif pada awalnya, cuma saja kreatifitas dalam bidang ibadah bukanlah sebuah "kreatifitas", yang perlu kita lakukan hanya mengikuti dan berusaha mempelajari apa yang telah diberikan oleh Kanjeng Nabi. Kalau masalah pemikiran dan wacana, silakan melakukan kreasi sebanyak-banyaknya. Ada sebuah pepatah : "Tanyalah suatu permasalahan pada ahlinya". Usman Roy, –selayaknya bertanya pada guru beliau–, yang katanya ada di Surabaya, sebelum keblinger seperti ini.

Kalau saya ?? Wah, kalau saya "boleh" berijtihad, maka saya akan bikin Shalat PaHE (Paket Hemat) untuk kaum professional, kombinasi Dzuhur, Ashar, Maghrib cukup 3 raka’at saja. Ringkas, dan tidak akan terjebak kemacetan dan lunch. Untunglah Gusti Allah masih memberikan saya rasa takut, dan memberikan saya waktu untuk bertanya kepada mereka yang lebih ahli dalam masalah agama :)

Allahumma, Inni a’udzubika minal jaahilin, wa innahum la ya’lamuna ma yaf’aluun, wa innaka anta ‘l-Wahhab.
Ya Allah, sungguh aku berlindung kepada-Mu dari (tipu daya) orang-orang bodoh (karena sesungguhnya mereka tidak tahu apa yang mereka perbuat), dan (sungguh)Engkaulah Maha Pemberi Karunia.

Denpasar, Mei 2005

Mas Jabier

Quo Vadis Kantin ITS ?

May 6th, 2005 by jabier

“Tidak ada privilege yang abadi. Yang abadi hanyalah rakyat” -Mira Bauw-

Kantin ITS, medio Agustus 1995
Kepulan-kepulan asap rokok ditingkahi dengan tegukan kopi hitam kental, asyik mengiringi diskusi-diskusi yang diadakan oleh (waktu itu) GPK, sebuah singkatan dari Gerombolan Penghuni Kantin ITS, dengan logonya yang begitu manis, sendok– dan garpu– ditingkahi senyum sebuah wajah lucu. Tema diskusi beragam, dari mulai yang ringan-ringan mengenai kemahasiswaan ITS, tipikal cewek ITS, hingga yang agak berat — agama, politik, kondisi kekinian, subversif, dan sangat berat menyentuh wilayah filsafat yang kadang-kadang bikin orang gak mudheng. Dengan peserta yang dari background yang variatif : QueCheng yang progresif-revolusioner, Munawar si santri gendheng dari JMMI, Sidhi Kapal 92 yang ngelothok masalah peradaban Russia dan Leninis sejati, Seto si Menwa gendheng, dengan gesture-gesture yang bisa dimasukkan dalam komik, beberapa penganut SosDemIs (Sosialisme-Demokrat-Islam), sebuah martabak campuran ideologi seperti saya, Buki, Hanas “Genjik” dan Iman, Danang yang macak bijak, Firman yang “cool” dan lain-lain. Diskusi-diskusi yang lain mengalir, dengan sebuah keinginan mencari kearifan universal dengan berbekal latar belakang kami yang beragam waktu itu.

Hampir 4 tahun kemudian, ditahun 1999 ,ketika saya sudah tidak begitu aktif lagi di Kantin ITS, hanya sesekali menyambangi, GPK sudah jauh bertransformasi menjadi sebuah gerakan yang lebih “structurized”, KAMI. Hanya, sayangnya, ada satu yang hilang dari metamorfosis tsb : Kalau GPK, yang lebih cair, person-personnya memiliki dan aktif mengembangkan diskursus untuk olah pikir dan interaksi dengan berbagai elemen aliran melalui diskusi dan bacaan, maka KAMI, setidaknya pada saat itu, lebih banyak termakan isu gerakan dan sangat kurang dalam pemahaman wacana. Bayangkan, seorang “tokoh” KAMI pada waktu itu, tidak tahu apa itu MADILOG, penguasaan dialektika yang pas-pasan, bisa mengucap dengan fasih nama-nama Marx, Nietszhe, Goethe, Habermass, tapi tidak tahu apa itu “ideologi” kiri. Sama saja kita mencoba memahami pikiran Marx tanpa membaca “Das Kapital”, dan memahami gerakan kiri tanpa membaca Manifesto Communist. How come ?

Dengan tingkat penguasaan wacana seperti itu, wajar jika kemudian KAMI menjadi bulan2an dalam beberapa aksinya di kemudian hari, karena tidak cerdas dalam menganalisis issue-issue gerakan, dan hanya menjadi sebuah alat demo tanpa ada proses pembelajaran.

Itu kantin yang dulu, tentunya sekarang jauh berubah. Menjadi lebih hedonis atau feminis ? ;-) Bagi saya, apapun itu, kantin ITS adalah tempat dimana saya pernah banyak belajar, berorganisasi, dan semoga semangat pembelajaran itu tetap terus terpelihara. That is , what I called as, the spirit of GPK .. Semoga.

Salam,

Mas Jabier
Aktivis Kantin (GPK) 1994-1996, Senat ITS (1996-1997) dan Teater Tiyang Alit (1997-1999).

Wajah Dunia Pendidikan Indonesia

May 2nd, 2005 by jabier

Ki_hajar Rekan saya hapal mati kata-kata ujaran dari Ki Hajar Dewantara, bapak Pendidikan Indonesia : "Als ik Nederlander waas", if I were a Dutchman, yang ditulisnya dalam sebuah edisi suratkabar pertengahan tahun 1920-an. Sebuah sindiran yang tajam (satire) kepada tingkah laku kolonialis Belanda pada waktu itu, menindas dan berfoya-foya ditengah bangsa yang dijajahnya.

Kita mafhum, pendidikan adalah kunci utama dari sebuah perubahan, karena dengan pendidikan, rakyat yang bodoh menjadi tahu, dari tahu akan dapat mengambil sikap dan tindakan. Model pembelajaran seperti ini akan terus berulang, dan jika masyarakat sudah semakin terdidik, –yang oleh Nurcholis Madjid disebut sebagai embrio civil society–, inilah yang akan menjadi kekuatan utama kontrol terhadap pemerintah.

Apakah dunia pendidikan kita, setelah hampir 60 tahun merdeka, mengalami peningkatan yang signifikan ?

Saya bilang sih tidak. Kita cukup mengganti kata benda Belanda, dengan kata benda Indonesia Kaya. Jadi :
"Pendidikan berkualitas hanya dinikmati oleh mereka yang [Indonesia Kaya],
Hanya [Indonesia Kaya] yang dapat menikmati pendidikan tinggi yang baik, fasilitas kesehatan yang baik, dan kehidupan sosial yang baik;
Dengan tiket masuk universitas yang aje gile, kembali hanya [Indonesia Kaya] yang berhak menikmatinya;
dan lain-lain" [full of crap]

Bagi saya, karena pendidikan adalah kunci perubahan, maka pendidikan haruslah dibuat murah, –dan kalau perlu gratis–, bagi mereka yang memang berbakat, cerdas, pandai, tapi tidak memiliki dana finansial yang cukup untuk pergi ke sekolah.

Saya (mungkin) beruntung dapat menikmati pendidikan tinggi, tapi saya juga merasa jauh lebih beruntung, karena ditengah kondisi finansial yang begitu pas-pasan, saya dapat melaluinya dengan baik.

Selamat Hari Pendidikan !

Denpasar, Mei 2005

Mas Jabier

Para Buruh Sedunia, Bersatulah !

May 1st, 2005 by jabier

PeterboroBegitulah kurang lebih, teriakan Vladimir Ilyich Lenin, dalam sebuah episode Iskra (cetusan), sebuah newsletter yang dibuatnya di awal tahun 1900-an. Sebuah ajakan untuk menggalang kekuatan, tanpa memandang batas-batas nasion dan teritorial, untuk memperjuangkan kepentingan-kepentingan kaum buruh. Kata-kata ini sempat mengilhami Rendra dalam sajaknya : "Para pelacur kota Jakarta, bersatulah !"

Sejarah buruh jauh lebih muda ketimbang kaum tani, yang sudah lebih dahulu ada dan secara natural menjadi bentuk paling awal dari profesi manusia. Ketika pekerjaan-pekerjaan baru mulai muncul selain kegiatan agraris seiring majunya peradaban manusia (tukang besi, perajin, tukang bangunan dll), maka buruh mulai terbentuk sebagai sebuah profesi tersendiri, terpisah dari nelayan/petani.  Episode dalam sejarah yang paling menggelembungkan jumlah kaum buruh tentu saja Revolusi Industri, yang bermula di Inggris dengan ditemukannya mesin uap oleh , menggiatkan proses industrialisasi Eropa, yang kemudian terbawa ke Amerika.

Pada kondisi kekinian, apa sebenarnya yang dapat disebut buruh ?
Sederhananya, siapa saja yang bekerja (pada) orang lain dan mendapatkan upah, disebut buruh. So, as long as you’re working for another person (called employers or bosses), you’re a labour ! Saya, anda, teman2 pegawai negeri (Negara sebagai boss), dan lain-lain kebanyakan dari kita yang tiap bulan mendapat gaji, kerja tiap hari hari from nine to five, berdesak-desakan di transportasi umum memakai kemeja dan membawa tas tangan atau membawa mobil mewah sambil disupiri, but you still get salary, not your own company ! Itulah buruh, yang ada adalah kategorisasi buruh : ada buruh berdasi dan tidak berdasi, buruh kaya dan buruh miskin, buruh intelek & buruh kasar, buruh TI dan buruh non-TI (ini personal,..he..he..he..) :)

Kita harus mengakui, fakta di lapangan masih banyak berbicara mengenai penindasan yang dialami oleh kaum buruh di banyak negara, khususnya di Indonesia. Gaji yang tidak cukup, jaminan kesehatan dan asuransi yang tidak memadai, dan lain-lain.  Negara masih memikirkan  dan lebih mementingkan  sekelompok  orang  yang berdiri di  golongan investor, ketimbang  buruh yang jumlahnya mungkin 100x lebih banyak.

Jadi kepada pemerintah yang berkuasa : tetapkan upah yang layak, hilangkan penindasan kepada kaum buruh, berikan jaminan masa depan yang lebih baik kepada buruh, dan kondisikan suasana yang lebih kondusif antara pengusaha-buruh dalam koridor demokrasi dan saling menghormati. Buruh-buruh di negara maju –yang notabene kapitalis–, dengan organisasi yang lebih baik dan tingkat partisipasi publik yang baik, memang jauh lebih baik dari Indonesia. Bahkan Cina Komunis, Kuba, dan beberapa negara komunis lain jauh lebih baik, karena mereka dikontrol oleh lembaga Negara. Dan ingatlah, Partai Buruh adalah partai yang bergengsi di Inggris & Australia, yang aslinya berasal dari kaum buruh.

Mari kita memaknai 1 Mei  (Internationale Day), Hari Buruh, sebagai langkah awal untuk merenungi segala kondisi kekinian yang ada dalam lingkup buruh di Indonesia, dan berusaha memperbaikinya secara sistematis dan organisatoris.

Jadi, para buruh se-Indonesia, bersatulah !

Mas Jabier
–bagian dari buruh Indonesia–

Bang Ridwan, Kagak Ade Kerjaan nyang Laen ?

April 27th, 2005 by jabier

DewaPagi tadi saya menonton sebuah infotainment, ada berita yang cukup mengagetkan : Ridwan Saidi. sang tokoh Masyumi, akan melayangkan tuntutan ke Dewa, karena lirik-liriknya dianggap sebagai membawa ajaran sesat ? "Hmmm..", saya bergumam dalam hati. "Dewa lagi,..Dewa lagi..".

Well, I have to tell you this from the beginning. Saya bukan penggemar Dewa, at all, dan dari dulu saya sudah menganggap Dhani is one of the jerks. Tapi berbicara mengenai aliran sesat (Ridwan Saidi menyebut Panteisme) adalah soal lain. Dan berbicara mengenai Dewa sebagai sebuah elemen kreativitas, maka secara natural saya memberikan satu tangan saya untuk mereka. Dukungan, simpati dan empati untuk semua seniman, –tidak hanya DEWA–, yang terpasung atau akan dipasung dalam proses kreativitasnya.

Bang Ridwan,
Saya yakin, penggemar DEWA yang rata-rata masih remaja, tidak tahu apa itu Panteisme, Wihdatul Wujud, Al-Hulul dan lain sebagainya. Mereka cuman tahu mengenai Cinta,..dan biarlah Dhani mencintai siapa saja (termasuk Tuhan) dengan caranya sendiri. Dengan bahasanya sendiri. Bang Ridwan mempersoalkan kata-kata : "Aku ini cinta-Mu, aku ini jiwa-Mu.." Coba sih dipikir dikit gitu lho bang, apa si Dhani menyamakan jiwanya yang kotor dengan jiwa Tuhan yang suci, atau dia hanya mengakui bahwa jiwanya milik Tuhan ? Saya membaca lirik ini satu kali, dan saya bisa langsung tahu bahwa maksud Dhani adalah jiwanya adalah milik Tuhan (aku ini jiwa (kepunyaan)-Mu, dan cintanya adalah juga bagian dari cinta Tuhan (aku ini (adalah bagian dari) cinta-Mu.

Mestinya bang Ridwan bangga kalau seniman kreatif seperti Dhani, sudah sampai pada tahap kontemplasi seperti ini. Kalau saya sampai pada penggalan ayat di Surat Al-Baqarah : "..(Qul) fainni qariib.", trus pas kebeneran bang Ridwan denger dua kata terakhir, langsung abang nuduh aye ngaku-ngaku Tuhan nyang begitu deket ?? Bang, tulung bedain antare orang yang bercermin (dengan alam, quran, ayat-ayat-Nya di alam semesta ini) dengan orang yang menganggap dirinya adalah cermin itu sendiri. Pan ada tuh, nyang ngaku nabi di Sulawesi Barat, bagusan abang ngurusin entu ketimbang Dhani.

Ape bang Ridwan di Masyumi baru, udeh kagak ade kerjaan lagi ?

Denpasar, April 2005

Mas Jabier

There are people that were born as B*tch*s..

April 27th, 2005 by jabier

158062756001mzzzzzzzMembaca beberapa episode kehidupan dari orang-orang seperti Azhari’s girls (Ayu, Sarah dan Rachma), SL (Sophia Latjuba) et cetera hanya membuat kita terperangah atas kelakuan (baca:attitude) mereka. Dengan bangganya memamerkan ke-sexy-an dan "keterbukaan" dalam sebuah public appearance, dan dengan mengungkapkan, –dalam bahasa saya–, a brain damn foolish reason.

Kenapa saya bilang begitu ? Saya tidak berusaha menjadi seorang moralis seperti Aa Gym atau Arifin Ilham. Biarlah masalah fatwa de el el menjadi urusan para ulama. Yang saya sikapi adalah masalah attitude yang sedikit nyerempet ke ethics.

Di tahun 1980-an, seorang senator Amerika, Gary Hart, terpaksa mengundurkan diri dari pencalonannya sebagai presiden Amerika karena tertimpa kasus "esek-esek" dengan model Donna Rice, di kapal "Monkey Business". US, yang kata orang menghalalkan segala bentuk kebebasan (politik, budaya, seks dll), yang menjadi markas penerbit majalah playboy, penthouse, yang menjadi pusat anti-establishment, ternyata berbicara lain ketika menyangkut penampilan publik dan standar moral, apalagi ketika hal itu menimpa calon pemimpin mereka. Dan lihatlah reaksi masyarakat Amerika yang terperangah dan mengecam aksi Janet Jackson dalam acara Superbowl tahun lalu yang melakukan pornoaksi di depan TV.

Aktris Angelina Jolie, –I love this bitch when she played "Girl, Interrupted!"– betapa pun liarnya kehidupan pribadi-nya, tetapi pada saat tampil dalam public appearance, adalah sosok yang sangat keibuan dan mencintai anak angkatnya, Maddox.

So, what’s my point here ?

You have to split between personal and public area. Saya tidak perduli apa yang anda lakukan dalam wilayah personal anda, tapi ketika anda tampil dalam sebuah ruang publik, lakukan hal-hal yang pantas dengan tingkah laku dan ucapan yang cerdas. "Biasa, kan cewek..sexy gitu lho! Semakin sexy, semakin OK " ungkapan Sarah Azhari hanya mencerminkan perbandingan terbalik on her brain capacity.

Atau seperti ungkapan teman saya, "There are people that were born as bitches." Saya pribadi menambahkan, "If you are bitch, then make it smart !". Jangan seperti Paris Hilton, dan orang-orang yang sudah saya sebut diatas.

Salam,
Denpasar, April 2005

Mas Jabier

Plagiator, Dimanakah engkau ?

April 27th, 2005 by jabier

Joe Millionaire. Topeng. xxx Ilahi. xxx Ilahi. Dan lain-lain.

Beberapa hari kita melihat tampilan sinetron-sinetron, reality show dan lain sebagainya, yang bagi saya, banyak nuansa plagiat. Lihatlah Joe Millionaire, acara yang sebaiknya tidak usah ditonton, dan sangat jauh dari versi asalnya di Amerika. Come on guys, be creative ! Apa tidak ada versi lain yang lebih membumi, dan –ini pendapat personal saya–, it’s not good to sell "love" either tragic or comedy, for public consumption.

Indonesia memang aneh. Saat jaman acara-acara berbau magis tampil populer di TV, maka berduyun-duyun TV lain memproduksinya. Gentayangan, Dunia Lain, Pemburu hantu (Ghostbuster), Dunia Ghaib  dll yang cuman memainkan akal2an plus acting pantomim yang bisa diberi acungan jempol kaki. Saat ini, ketika sinetron berbau religius (meskipun masih ada unsur klenik + magic) populer, maka beramai-ramai TV lain memproduseri acara yang sama : Takdir Ilahi, Kuasa Ilahi, TV Legenda, Astagfirullah, dan lain-lain.

Benarkah kita hanya terpaku pada trend, mode, apa yang laku dan tidak, tanpa membuat sebuah modifikasi cerdas dari apa yang ingin kita tiru ? LIhatlah sinetron "Topeng", yang jelas-jelas plagiat dari "The Mask" yang menjadi debut Jim Carrey di tahun 95 ? Saya juga pernah mementaskan naskah "Topeng Bah !" yang saya tulis sendiri bersama Teater Tiyang Alit di tahun 1996, but it’s totally different situation & theme. Lihatlah sinetron itu : seseorang secara tidak sengaja menemukan topeng, memakainya, dan berubah menjadi individu lain dengan kemampuan2 supranatural. Dan bandingkan dengan "The Mask".

Cobalah liat proses kreatif Quentin Tarantino, yang membuat sekuel Kill Bill. Jelas-jelas dia mengakui bahwa karya itu di-ilhami dari film lokal Jepang (saya lupa namanya), tapi dia memodifikasi, –dan bahkan — "menafsirkan" sehingga menjadi khas Hollywood, dan enak dilihat.

Lihat juga acara kontes2, yang dengan cepat diikuti acara kontes Model, Dangdut, AFI Junior (C’mon guys, they’re just kids !), dan lain-lain. Tampaknya, pengekoran, telah menjadi bagian dari budaya kita.

Maaf, bukan berarti saya mewajibkan bahwa kita harus selalu menemukan judul baru, theme baru atau apa lah. Para penyair juga sering melakukan penafsiran atas suatu karya, dan itu bukan plagiat. Kata-kata "inspired by" menjadi sangat populer di beberapa lagu, film atau cerita.

Hanya, kita harus menulis kembali dengan cerdas. Konteks yang berbeda. Konflik yang lebih localized, atau bahkan menambahkan keunikan dari gaya kita masing-masing ke dalam suatu karya. Dan bagi saya, itu adalah suatu proses kreatif yang berdiri sendiri.

Salam,

Denpasar, April 2005

Mas Jabier

Simbolisme dan Formalisme dalam Kehidupan Spiritual

April 26th, 2005 by jabier

Kaligrafi10242"Tuhan, Engkau tahu aku seorang illiterate, buta huruf dan tidak mengerti bagaimana seharusnya berdo’a kepadamu dengan benar. Karena itu, aku serahkan kumpulan huruf dalam surat ini, aturlah sesuka-Mu menjadi do’a yang terbaik, karena Engkaulah Sang Maha Indah. Padamu hanya kuserahkan ketulusan dan kepasrahan.."

Sebuah penggalan dari kisah Do’a Sang Katak, karangan Pater De Mello, yang saya kagumi karena esensinya yang mendalam.

Semangat simbolisme (baca:formalisme) dalam beragama, sudah dimulai jauh-jauh hari, bahkan ketika suatu bentuk budaya yang bernama agama, lahir ke muka bumi ini. Semangat ini ditandai dengan menguatnya unsur-unsur puritanisme, lembaga yang memiliki kekuasaan yang sangat besar, dan aturan-aturan kaku yang hanya berbicara benar dan salah, tanpa memahami hubungan sebab akibat dan kondisi yang berlaku.

Tradisi agama-agama besar juga pernah (dan mungkin) masih dipenuhi dengan kuatnya simbolisme dan formalisme dalam kesehariannya.  Kristen Katolik dengan lembaga kepausan, doktrin-doktrin Nicea (yang kemudian di-revisi dalam kaitannya dengan wanita dan ilmu pengetahuan), Islam pada masa kekhalifahan Abbasiyah yang menjadi ajang perseteruan antara Sunnah-Syiah yang sebenarnya lebih bertendensi politis ketimbang teologis, Budha pada masa awal pembentukan Aliran Zen Mahayana di Cina dan lain-lain.

Kekakuan dalam menerima doktrin tanpa mau melihat perkembangan kehidupan manusia, dan penghormatan berlebihan terhadap simbol, menjadikan prinsip formalisme ini menjadi sebuah kekuatan politik, –yang dengan demikian–, memiliki kekuatan untuk menghukum, siapa saja yang dianggap tidak sealiran,..dus tidak sesuai dengan pesan yang tercantum dalam kitab suci.

Kita sekali lagi dihadapkan dengan insiden simbolisme ini pada band Dewa, yang menggunakan kaligrafi sebagai cover, versus FPI yang mewakili sisi formal dalam agama.  Kejadian yang sama pernah juga dialami Iwan Fals pada cover kaset dan CD-nya.

Saya pernah bertanya kepada seorang rekan : "Ketika engkau memandang salib, apa yang kamu pandang paling penting, simbol salib, Yesus yang disalibkan, atau nilai-nilai universal yang dibawa oleh orang yang disalibkan (Yesus) ?" . Teman saya menjawab yang terakhir, yang artinya dia telah ada pada tahap diatas formalisme dalam beragama, dia sudah mencapai esensi dalam beragama.

Sama seperti Maulid Nabi yang kita peringati setiap tahun, jika kita melakukannya sekedar sebagai sebuah ritus, maka kita terjebak dalam formalisme agama. Sudah sepatutnya kita memperingatinya untuk meneladani kepribadian Muhammad SAW, dan yang lebih penting, menggapai esensi ajaran-ajarannya.

Semangat formalisme dan simbolisme yang berlebihan dalam beragama, hanya mengantarkan kita untuk menjadi fanatik tanpa makna. Dalam "Kiai Sudrun Gugat", Emha Ainun Nadjib menafsirkan simbolisme ini sebagai sebuah pendangkalan akidah, yang berujung pada fanatisme buta, dan politisasi agama. Hassan Hanafi, dalam "Kiri Islam" memandang formalisme agama adalah hal sempit yang harus dihindari, karena sesungguhnya agama, sebagai sebuah ajaran moral, harus ditempatkan dalam sebuah kerangka pengajaran dan kearifan universal. Sebagai sebuah ajaran universal, dialah yang harus membatasi nilai-nilai lain yang akan selalu berubah dari waktu ke waktu, bukan terjebak dalam sebuah bingkai formalisme dan simbolisme yang kaku.

Jadi, mari lepaskanlah simbol dan baju formal kita, dan mari kita mencari esensi dari simbol-simbol atau kaidah2 formal yang ada dalam agama kita masing-masing. Schimmel, dalam "Mysticism in Islam" mengasumsikan, dan saya sependapat dengan beliau, kita akan sampai pada titik yang tidak terlalu berbeda,– atau bahkan sama–, ketika mencari esensi ini.

Salam,

Denpasar, April 2005
Mas Jabier

Kisah Para Diktator

April 24th, 2005 by jabier

"Ketika kediktatoran menjadi kenyataan, maka revolusi menjadi sebuah kebenaran."
                                                                                                           Victor Hugo



Tadi malam, saya membuka-buka kembali buku "Kisah Para Diktator : Sebuah Biograpi singkat" karangan Jules Verne. Sebenarnya saya sudah pernah membacanya, tapi saya tergerak membaca kembali, disamping karena memang saya susah tidur jika tidak membaca sesuatu, ada satu tokoh yang ingin saya baca di buku itu : Soekarno.

Apakah Soekarno seorang diktator ? Menurut definisi diktator itu sendiri, jelas Ya. Kita semua tahu di era Demokrasi Terpimpin dimana semua kekuasaan terpusat pada Soekarno, pada saat itulah kita tahu bahwa ia sudah menjadi seorang diktator dengan beragam gelar : Pemimpin Besar Revolusi, Pimpinan Tertinggi Angkatan Perang, dll. Saya sendiri adalah pengagum Soekarno, dengan segala kelebihan dan kekurangannya sebagai manusia biasa.

Tidak dapat disangkal, diktator adalah orang-orang yang dianugerahi kecerdasan yang sangat tinggi. Hitler, Mussollini, Franco, Castro untuk menyebut tokoh2 cerdas yang mampu menggunakan kesempatan, mengatur sumberdaya untuk mengambil alih kekuasaan, baik secara fisik/militer maupun secara demokratis. Dalam bahasa singkat, mereka mempunya IQ yang tinggi.

Bagaimana dengan EQ (Emotional Quotient) ? Jelas, mereka sebagian besar memilikinya. Jika tidak, bagaimana mungkin seorang Mao Tse Tung mampu membawa 100 ribu pengikutnya melakukan long march dari Kiangsi, melewati ratusan pertempuran, belasan sungai, puluhan jurang dengan penuh ketenangan dan perhitungan ? Bagaimana mungkin seorang Castro, mampu berteriak di depan pengadilan Batista : "Bunuhlah aku, dan sejarah akan mengingatku ! " dengan gagah berani dan tenang ?

Lalu apa yang membuat mereka menjadi Diktator ? Ary Ginanjar Agustian mengatakan hilangnya faktor S (Spiritual) dalam kelebihan IQ dan EQ mereka. Kalau saja mereka memiliki S, sehingga menjadi ESQ, yang terjadi tentu tidaklah sebuah kediktatoran, akan tetapi sebuah amanah kepemimpinan untuk memakmurkan dan menyejahterakan rakyat.

So, I read again Ary’s book : ESQ (Emotional Spiritual Quotient), yang sebenarnya juga sudah saya baca..ha..ha..ha..:) Tapi ya itulah, tidak mudah bagi orang seperti saya untuk langsung tidur tanpa membaca terlebih dahulu.

Kali ini saya membacanya dengan pelan-pelan, mencoba mencari berbagai hubungan. Insya Allah, analisa saya mengenai buku ini akan saya bagikan dalam posting mendatang.

Jadi, masih tertarik menjadi diktator ?

Denpasar, April 2005

Salam,

Mas Jabier

Always With You, Always with Me ..

April 24th, 2005 by jabier

Joe Satriani, jelaslah seorang "Dewa", God, dalam ilmu gitar. Seorang virtuoso sejati yang memadukan teknik-teknik bermain Rock dan Blues secara apik, dengan lengkingan melodi yang khas dan memukau.

Saya memiliki dua DVD Satch (panggilan Satriani), satu "Live in San Fransisco" dan satu lagi ketika dia berkolaborasi dengan Steve Vai (murid sekaligus sahabatnya), dan Yngwie Malmsteen dalam konser G3, Live in Denver.

Mengapa saya ingin sharing "Always With You, Always With Me " ini ?  Sekitar 5 tahun yang lalu, waktu saya masih bekerja di RAD-Net, lagu inilah yang sering menemani malam-malam yang panjang, coding dengan Perl dan PHP, ngadmin, dan lain-lain kerjaan orang gila di waktu malam. Arpeggio yang manis, dan lengkingan melodi yang membawa suasana yang benar-benar asyik. It’s really like always with someone you want to be with !

Jadi di keheningan malam, tangan-tangan saya pun seringkali asyik memainkan melodi arpeggio dari lagu yang indah ini.  Tentu, tidaklah sebagus Satriani, sang Dewa, tapi paling tidak lumayan untuk didengar diri sendiri. Bagi mereka yang juga gitaris atau sekedar ingin lihat tablature dan partiture-nya, silakan download disini.

So, are you gonna sit with me, and sing "Always with Jabier" ? ;-)

Denpasar, April 2005

Mas Jabier