Archive for April, 2005

Bang Ridwan, Kagak Ade Kerjaan nyang Laen ?

Wednesday, April 27th, 2005

DewaPagi tadi saya menonton sebuah infotainment, ada berita yang cukup mengagetkan : Ridwan Saidi. sang tokoh Masyumi, akan melayangkan tuntutan ke Dewa, karena lirik-liriknya dianggap sebagai membawa ajaran sesat ? "Hmmm..", saya bergumam dalam hati. "Dewa lagi,..Dewa lagi..".

Well, I have to tell you this from the beginning. Saya bukan penggemar Dewa, at all, dan dari dulu saya sudah menganggap Dhani is one of the jerks. Tapi berbicara mengenai aliran sesat (Ridwan Saidi menyebut Panteisme) adalah soal lain. Dan berbicara mengenai Dewa sebagai sebuah elemen kreativitas, maka secara natural saya memberikan satu tangan saya untuk mereka. Dukungan, simpati dan empati untuk semua seniman, –tidak hanya DEWA–, yang terpasung atau akan dipasung dalam proses kreativitasnya.

Bang Ridwan,
Saya yakin, penggemar DEWA yang rata-rata masih remaja, tidak tahu apa itu Panteisme, Wihdatul Wujud, Al-Hulul dan lain sebagainya. Mereka cuman tahu mengenai Cinta,..dan biarlah Dhani mencintai siapa saja (termasuk Tuhan) dengan caranya sendiri. Dengan bahasanya sendiri. Bang Ridwan mempersoalkan kata-kata : "Aku ini cinta-Mu, aku ini jiwa-Mu.." Coba sih dipikir dikit gitu lho bang, apa si Dhani menyamakan jiwanya yang kotor dengan jiwa Tuhan yang suci, atau dia hanya mengakui bahwa jiwanya milik Tuhan ? Saya membaca lirik ini satu kali, dan saya bisa langsung tahu bahwa maksud Dhani adalah jiwanya adalah milik Tuhan (aku ini jiwa (kepunyaan)-Mu, dan cintanya adalah juga bagian dari cinta Tuhan (aku ini (adalah bagian dari) cinta-Mu.

Mestinya bang Ridwan bangga kalau seniman kreatif seperti Dhani, sudah sampai pada tahap kontemplasi seperti ini. Kalau saya sampai pada penggalan ayat di Surat Al-Baqarah : "..(Qul) fainni qariib.", trus pas kebeneran bang Ridwan denger dua kata terakhir, langsung abang nuduh aye ngaku-ngaku Tuhan nyang begitu deket ?? Bang, tulung bedain antare orang yang bercermin (dengan alam, quran, ayat-ayat-Nya di alam semesta ini) dengan orang yang menganggap dirinya adalah cermin itu sendiri. Pan ada tuh, nyang ngaku nabi di Sulawesi Barat, bagusan abang ngurusin entu ketimbang Dhani.

Ape bang Ridwan di Masyumi baru, udeh kagak ade kerjaan lagi ?

Denpasar, April 2005

Mas Jabier

There are people that were born as B*tch*s..

Wednesday, April 27th, 2005

158062756001mzzzzzzzMembaca beberapa episode kehidupan dari orang-orang seperti Azhari’s girls (Ayu, Sarah dan Rachma), SL (Sophia Latjuba) et cetera hanya membuat kita terperangah atas kelakuan (baca:attitude) mereka. Dengan bangganya memamerkan ke-sexy-an dan "keterbukaan" dalam sebuah public appearance, dan dengan mengungkapkan, –dalam bahasa saya–, a brain damn foolish reason.

Kenapa saya bilang begitu ? Saya tidak berusaha menjadi seorang moralis seperti Aa Gym atau Arifin Ilham. Biarlah masalah fatwa de el el menjadi urusan para ulama. Yang saya sikapi adalah masalah attitude yang sedikit nyerempet ke ethics.

Di tahun 1980-an, seorang senator Amerika, Gary Hart, terpaksa mengundurkan diri dari pencalonannya sebagai presiden Amerika karena tertimpa kasus "esek-esek" dengan model Donna Rice, di kapal "Monkey Business". US, yang kata orang menghalalkan segala bentuk kebebasan (politik, budaya, seks dll), yang menjadi markas penerbit majalah playboy, penthouse, yang menjadi pusat anti-establishment, ternyata berbicara lain ketika menyangkut penampilan publik dan standar moral, apalagi ketika hal itu menimpa calon pemimpin mereka. Dan lihatlah reaksi masyarakat Amerika yang terperangah dan mengecam aksi Janet Jackson dalam acara Superbowl tahun lalu yang melakukan pornoaksi di depan TV.

Aktris Angelina Jolie, –I love this bitch when she played "Girl, Interrupted!"– betapa pun liarnya kehidupan pribadi-nya, tetapi pada saat tampil dalam public appearance, adalah sosok yang sangat keibuan dan mencintai anak angkatnya, Maddox.

So, what’s my point here ?

You have to split between personal and public area. Saya tidak perduli apa yang anda lakukan dalam wilayah personal anda, tapi ketika anda tampil dalam sebuah ruang publik, lakukan hal-hal yang pantas dengan tingkah laku dan ucapan yang cerdas. "Biasa, kan cewek..sexy gitu lho! Semakin sexy, semakin OK " ungkapan Sarah Azhari hanya mencerminkan perbandingan terbalik on her brain capacity.

Atau seperti ungkapan teman saya, "There are people that were born as bitches." Saya pribadi menambahkan, "If you are bitch, then make it smart !". Jangan seperti Paris Hilton, dan orang-orang yang sudah saya sebut diatas.

Salam,
Denpasar, April 2005

Mas Jabier

Plagiator, Dimanakah engkau ?

Wednesday, April 27th, 2005

Joe Millionaire. Topeng. xxx Ilahi. xxx Ilahi. Dan lain-lain.

Beberapa hari kita melihat tampilan sinetron-sinetron, reality show dan lain sebagainya, yang bagi saya, banyak nuansa plagiat. Lihatlah Joe Millionaire, acara yang sebaiknya tidak usah ditonton, dan sangat jauh dari versi asalnya di Amerika. Come on guys, be creative ! Apa tidak ada versi lain yang lebih membumi, dan –ini pendapat personal saya–, it’s not good to sell "love" either tragic or comedy, for public consumption.

Indonesia memang aneh. Saat jaman acara-acara berbau magis tampil populer di TV, maka berduyun-duyun TV lain memproduksinya. Gentayangan, Dunia Lain, Pemburu hantu (Ghostbuster), Dunia Ghaib  dll yang cuman memainkan akal2an plus acting pantomim yang bisa diberi acungan jempol kaki. Saat ini, ketika sinetron berbau religius (meskipun masih ada unsur klenik + magic) populer, maka beramai-ramai TV lain memproduseri acara yang sama : Takdir Ilahi, Kuasa Ilahi, TV Legenda, Astagfirullah, dan lain-lain.

Benarkah kita hanya terpaku pada trend, mode, apa yang laku dan tidak, tanpa membuat sebuah modifikasi cerdas dari apa yang ingin kita tiru ? LIhatlah sinetron "Topeng", yang jelas-jelas plagiat dari "The Mask" yang menjadi debut Jim Carrey di tahun 95 ? Saya juga pernah mementaskan naskah "Topeng Bah !" yang saya tulis sendiri bersama Teater Tiyang Alit di tahun 1996, but it’s totally different situation & theme. Lihatlah sinetron itu : seseorang secara tidak sengaja menemukan topeng, memakainya, dan berubah menjadi individu lain dengan kemampuan2 supranatural. Dan bandingkan dengan "The Mask".

Cobalah liat proses kreatif Quentin Tarantino, yang membuat sekuel Kill Bill. Jelas-jelas dia mengakui bahwa karya itu di-ilhami dari film lokal Jepang (saya lupa namanya), tapi dia memodifikasi, –dan bahkan — "menafsirkan" sehingga menjadi khas Hollywood, dan enak dilihat.

Lihat juga acara kontes2, yang dengan cepat diikuti acara kontes Model, Dangdut, AFI Junior (C’mon guys, they’re just kids !), dan lain-lain. Tampaknya, pengekoran, telah menjadi bagian dari budaya kita.

Maaf, bukan berarti saya mewajibkan bahwa kita harus selalu menemukan judul baru, theme baru atau apa lah. Para penyair juga sering melakukan penafsiran atas suatu karya, dan itu bukan plagiat. Kata-kata "inspired by" menjadi sangat populer di beberapa lagu, film atau cerita.

Hanya, kita harus menulis kembali dengan cerdas. Konteks yang berbeda. Konflik yang lebih localized, atau bahkan menambahkan keunikan dari gaya kita masing-masing ke dalam suatu karya. Dan bagi saya, itu adalah suatu proses kreatif yang berdiri sendiri.

Salam,

Denpasar, April 2005

Mas Jabier

Simbolisme dan Formalisme dalam Kehidupan Spiritual

Tuesday, April 26th, 2005

Kaligrafi10242"Tuhan, Engkau tahu aku seorang illiterate, buta huruf dan tidak mengerti bagaimana seharusnya berdo’a kepadamu dengan benar. Karena itu, aku serahkan kumpulan huruf dalam surat ini, aturlah sesuka-Mu menjadi do’a yang terbaik, karena Engkaulah Sang Maha Indah. Padamu hanya kuserahkan ketulusan dan kepasrahan.."

Sebuah penggalan dari kisah Do’a Sang Katak, karangan Pater De Mello, yang saya kagumi karena esensinya yang mendalam.

Semangat simbolisme (baca:formalisme) dalam beragama, sudah dimulai jauh-jauh hari, bahkan ketika suatu bentuk budaya yang bernama agama, lahir ke muka bumi ini. Semangat ini ditandai dengan menguatnya unsur-unsur puritanisme, lembaga yang memiliki kekuasaan yang sangat besar, dan aturan-aturan kaku yang hanya berbicara benar dan salah, tanpa memahami hubungan sebab akibat dan kondisi yang berlaku.

Tradisi agama-agama besar juga pernah (dan mungkin) masih dipenuhi dengan kuatnya simbolisme dan formalisme dalam kesehariannya.  Kristen Katolik dengan lembaga kepausan, doktrin-doktrin Nicea (yang kemudian di-revisi dalam kaitannya dengan wanita dan ilmu pengetahuan), Islam pada masa kekhalifahan Abbasiyah yang menjadi ajang perseteruan antara Sunnah-Syiah yang sebenarnya lebih bertendensi politis ketimbang teologis, Budha pada masa awal pembentukan Aliran Zen Mahayana di Cina dan lain-lain.

Kekakuan dalam menerima doktrin tanpa mau melihat perkembangan kehidupan manusia, dan penghormatan berlebihan terhadap simbol, menjadikan prinsip formalisme ini menjadi sebuah kekuatan politik, –yang dengan demikian–, memiliki kekuatan untuk menghukum, siapa saja yang dianggap tidak sealiran,..dus tidak sesuai dengan pesan yang tercantum dalam kitab suci.

Kita sekali lagi dihadapkan dengan insiden simbolisme ini pada band Dewa, yang menggunakan kaligrafi sebagai cover, versus FPI yang mewakili sisi formal dalam agama.  Kejadian yang sama pernah juga dialami Iwan Fals pada cover kaset dan CD-nya.

Saya pernah bertanya kepada seorang rekan : "Ketika engkau memandang salib, apa yang kamu pandang paling penting, simbol salib, Yesus yang disalibkan, atau nilai-nilai universal yang dibawa oleh orang yang disalibkan (Yesus) ?" . Teman saya menjawab yang terakhir, yang artinya dia telah ada pada tahap diatas formalisme dalam beragama, dia sudah mencapai esensi dalam beragama.

Sama seperti Maulid Nabi yang kita peringati setiap tahun, jika kita melakukannya sekedar sebagai sebuah ritus, maka kita terjebak dalam formalisme agama. Sudah sepatutnya kita memperingatinya untuk meneladani kepribadian Muhammad SAW, dan yang lebih penting, menggapai esensi ajaran-ajarannya.

Semangat formalisme dan simbolisme yang berlebihan dalam beragama, hanya mengantarkan kita untuk menjadi fanatik tanpa makna. Dalam "Kiai Sudrun Gugat", Emha Ainun Nadjib menafsirkan simbolisme ini sebagai sebuah pendangkalan akidah, yang berujung pada fanatisme buta, dan politisasi agama. Hassan Hanafi, dalam "Kiri Islam" memandang formalisme agama adalah hal sempit yang harus dihindari, karena sesungguhnya agama, sebagai sebuah ajaran moral, harus ditempatkan dalam sebuah kerangka pengajaran dan kearifan universal. Sebagai sebuah ajaran universal, dialah yang harus membatasi nilai-nilai lain yang akan selalu berubah dari waktu ke waktu, bukan terjebak dalam sebuah bingkai formalisme dan simbolisme yang kaku.

Jadi, mari lepaskanlah simbol dan baju formal kita, dan mari kita mencari esensi dari simbol-simbol atau kaidah2 formal yang ada dalam agama kita masing-masing. Schimmel, dalam "Mysticism in Islam" mengasumsikan, dan saya sependapat dengan beliau, kita akan sampai pada titik yang tidak terlalu berbeda,– atau bahkan sama–, ketika mencari esensi ini.

Salam,

Denpasar, April 2005
Mas Jabier

Kisah Para Diktator

Sunday, April 24th, 2005

"Ketika kediktatoran menjadi kenyataan, maka revolusi menjadi sebuah kebenaran."
                                                                                                           Victor Hugo



Tadi malam, saya membuka-buka kembali buku "Kisah Para Diktator : Sebuah Biograpi singkat" karangan Jules Verne. Sebenarnya saya sudah pernah membacanya, tapi saya tergerak membaca kembali, disamping karena memang saya susah tidur jika tidak membaca sesuatu, ada satu tokoh yang ingin saya baca di buku itu : Soekarno.

Apakah Soekarno seorang diktator ? Menurut definisi diktator itu sendiri, jelas Ya. Kita semua tahu di era Demokrasi Terpimpin dimana semua kekuasaan terpusat pada Soekarno, pada saat itulah kita tahu bahwa ia sudah menjadi seorang diktator dengan beragam gelar : Pemimpin Besar Revolusi, Pimpinan Tertinggi Angkatan Perang, dll. Saya sendiri adalah pengagum Soekarno, dengan segala kelebihan dan kekurangannya sebagai manusia biasa.

Tidak dapat disangkal, diktator adalah orang-orang yang dianugerahi kecerdasan yang sangat tinggi. Hitler, Mussollini, Franco, Castro untuk menyebut tokoh2 cerdas yang mampu menggunakan kesempatan, mengatur sumberdaya untuk mengambil alih kekuasaan, baik secara fisik/militer maupun secara demokratis. Dalam bahasa singkat, mereka mempunya IQ yang tinggi.

Bagaimana dengan EQ (Emotional Quotient) ? Jelas, mereka sebagian besar memilikinya. Jika tidak, bagaimana mungkin seorang Mao Tse Tung mampu membawa 100 ribu pengikutnya melakukan long march dari Kiangsi, melewati ratusan pertempuran, belasan sungai, puluhan jurang dengan penuh ketenangan dan perhitungan ? Bagaimana mungkin seorang Castro, mampu berteriak di depan pengadilan Batista : "Bunuhlah aku, dan sejarah akan mengingatku ! " dengan gagah berani dan tenang ?

Lalu apa yang membuat mereka menjadi Diktator ? Ary Ginanjar Agustian mengatakan hilangnya faktor S (Spiritual) dalam kelebihan IQ dan EQ mereka. Kalau saja mereka memiliki S, sehingga menjadi ESQ, yang terjadi tentu tidaklah sebuah kediktatoran, akan tetapi sebuah amanah kepemimpinan untuk memakmurkan dan menyejahterakan rakyat.

So, I read again Ary’s book : ESQ (Emotional Spiritual Quotient), yang sebenarnya juga sudah saya baca..ha..ha..ha..:) Tapi ya itulah, tidak mudah bagi orang seperti saya untuk langsung tidur tanpa membaca terlebih dahulu.

Kali ini saya membacanya dengan pelan-pelan, mencoba mencari berbagai hubungan. Insya Allah, analisa saya mengenai buku ini akan saya bagikan dalam posting mendatang.

Jadi, masih tertarik menjadi diktator ?

Denpasar, April 2005

Salam,

Mas Jabier

Always With You, Always with Me ..

Sunday, April 24th, 2005

Joe Satriani, jelaslah seorang "Dewa", God, dalam ilmu gitar. Seorang virtuoso sejati yang memadukan teknik-teknik bermain Rock dan Blues secara apik, dengan lengkingan melodi yang khas dan memukau.

Saya memiliki dua DVD Satch (panggilan Satriani), satu "Live in San Fransisco" dan satu lagi ketika dia berkolaborasi dengan Steve Vai (murid sekaligus sahabatnya), dan Yngwie Malmsteen dalam konser G3, Live in Denver.

Mengapa saya ingin sharing "Always With You, Always With Me " ini ?  Sekitar 5 tahun yang lalu, waktu saya masih bekerja di RAD-Net, lagu inilah yang sering menemani malam-malam yang panjang, coding dengan Perl dan PHP, ngadmin, dan lain-lain kerjaan orang gila di waktu malam. Arpeggio yang manis, dan lengkingan melodi yang membawa suasana yang benar-benar asyik. It’s really like always with someone you want to be with !

Jadi di keheningan malam, tangan-tangan saya pun seringkali asyik memainkan melodi arpeggio dari lagu yang indah ini.  Tentu, tidaklah sebagus Satriani, sang Dewa, tapi paling tidak lumayan untuk didengar diri sendiri. Bagi mereka yang juga gitaris atau sekedar ingin lihat tablature dan partiture-nya, silakan download disini.

So, are you gonna sit with me, and sing "Always with Jabier" ? ;-)

Denpasar, April 2005

Mas Jabier

Negeri Gempa

Sunday, April 24th, 2005

Isak tangis dan kesedihan kita atas musibah Tsunami Aceh belum lagi reda, ketika kita dihadapkan dengan musibah gempa di pulau kecil nun jauh di Sumatera sana, Nias.  Kembali kita menangis, terharu, dan mungkin beberapa orang, termasuk saya, bergumam dalam hati : "Belum cukupkah Engkau timpakan azab bagi kami, Ya Allah ? "

Kemudian gunung-gunung pun mulai menunjukkan aktivitas mendebarkan hati penduduk kota  : Padang, Manado, dan Anak Krakatau di Selat Sunda. Satu bencana belum selesai, bencana lain datang silih berganti.

Gempa. Kekuatan maha hebat inilah yang menghancurkan Sodom dan Gomorah akibat perbuatan mereka yang menentang Tuhan, dan kemanusiaan secara umum. Gempa juga yang menelan Qarun, sang millioner di jaman Nabi Musa as, beserta seluruh harta benda miliknya ke dalam bumi. Dan gempa pula, yang diikuti tsunami, yang menelan lebih dari 100 ribu nyawa saudara-saudara kita di Aceh , Desember lalu.

Apakah tingkah laku kami sudah benar2 melewati batas, Tuhanku ? Atau Engkau menyamakan kami dengan penduduk Sodom dan Gomorah ? Atau sebagian dari kami yang Engkau beri kelebihan rezeki, berlagak seperti Qarun-Qarun baru di jaman modern ? Dan orang-orang yang diberi amanat sebagai pemimpin, bertingkah seperti Fir’aun ?

Negeri Gempa,
Dan ketika bumi diguncangkan,
dan gunung gemunung dilantakkan,
Adakah engkau mengambil pelajaran ?

Denpasar, April 2005

Mas Jabier

Film dan Kehidupan : Connected ?

Sunday, April 24th, 2005

Saya yakin, kita semua pasti pernah menikmati sebuah hiburan yang disebut film, entah itu dalam bioskop kelas satu, ruang keluarga yang nyaman bersama keluarga, atau bahkan bioskop yang terkenal dengan istilah "Misbar" alias Gerimis bubar. Saya tidak tahu apakah bioskop jenis terakhir masih ada (di pinggiran Jakarta), seingat saya sewaktu kecil dulu bioskop jenis ini masih laku, terutama di acara-acara perkawinan, sunatan dll dengan film2 tahun 80-an jenis action dengan tokohnya seperti Barry Prima (protagonis), Advent Bangun(antagonis), Suzanna, Eva Arnaz dll.

Saya ingat pertama kali diajak oleh Ayah saya menonton bioskop bersama adik saya, sekitar umur 9 tahun (kelas III SD). Film yang kami tonton waktu itu adalah "Django" yang dibintangi Franco Nero, bercerita mengenai koboi jago tembak, pahlawan yang membasmi kejahatan. Saya juga bingung kok bisa masuk bioskop waktu itu, padahal umur saya belum cukup .. apalagi jika melihat bahwa di film itu ada adegan2 yang "belum" boleh saya tonton..he..he..he.

Setelah beberapa lama, saya sudah berani menonton film bersama teman, atau bahkan sendiri. Bahkan jaman marak film kolosal yang diangkat dari Sandiwara Radio, saya bersama ibu dan adik berdesak-desakan di Mayestic Theater untuk menonton premiere film tersebut (kalau tidak salah,..Satria Madangkara, dengan tokoh utama Brama Kumbara). Untungnya televisi kita waktu itu hanya memiliki satu channel (TVRI only), kalau saja saya bisa melihat film animasi Hollywood di jaman itu, tentu saya pasti terbahak-bahak menyaksikan replika burung yang dinaiki Brama Kumbara, yang sangat "tidak realistis"..

Mari kita masuk ke topik utama : Apakah film, dalam tingkatan tertentu dapat mempengaruhi sikap manusia ? Saya menjawab : "Tentu." Ketika menyaksikan sebuah tontonan, entah musikal atau tidak, selalu ada nilai yang berproses dalam diri manusia. Nilai-nilai itu akan berinteraksi dengan raw material si manusia, dan dalam level selanjutnya akan mempengaruhi atau bahkan memotivasi tindakan-tindakannya di masa depan.

Ada beberapa film yang pernah sangat mempengaruhi saya, sebut saja Cross Roads (Ralph Machio, Joe Seneca) yang menambah kecintaan saya terhadap blues music dan "menggigit" saya untuk mempelajari instrumen gitar di tahun ‘89, Ghost (Demi Moore, Patrick Swayze) yang saya tonton di Kalibata sehabis pelantikan Paskibra di tahun 92, dan saya jadi tahu kenapa banyak KDM (Korban Demi Moore) waktu itu he..he..he.., Dancing With Wolves (Kevin Costner, dan dia mendapatkan Oscar untuk film ini) yang mengantarkan saya pada pemahaman dan penghormatan atas nilai2 kemanusiaan dan patriotisme (bahkan saya menontonnya 3 x), Braveheart (Mel Gibson) tahun ‘94 yang mengajarkan saya kekuatan sebuah prinsip., dan beberapa yang lain.

Begitu kuatnya nilai-nilai yang ditanamkan dalam film-film tersebut, sehingga,.bahkan saya masih mengingat beberapa detail dialog dan scene (atau ini karena saya memiliki photographic memory..he..he..he..??).

Yang pasti, film pasti mempengaruhi kehidupan kita. Tinggal bagaimana kita menangkap, mengolah dan mengambil nilai-nilai yang kita anggap baik, dan membuang yang tidak sesuai.

Of course, it’s not that simple, apalagi jika kita memiliki selera untuk menonton film-film yang tidak "bermutu"  :)

Salam,

Mas Jabier