Film dan Kehidupan : Connected ?

Saya yakin, kita semua pasti pernah menikmati sebuah hiburan yang disebut film, entah itu dalam bioskop kelas satu, ruang keluarga yang nyaman bersama keluarga, atau bahkan bioskop yang terkenal dengan istilah "Misbar" alias Gerimis bubar. Saya tidak tahu apakah bioskop jenis terakhir masih ada (di pinggiran Jakarta), seingat saya sewaktu kecil dulu bioskop jenis ini masih laku, terutama di acara-acara perkawinan, sunatan dll dengan film2 tahun 80-an jenis action dengan tokohnya seperti Barry Prima (protagonis), Advent Bangun(antagonis), Suzanna, Eva Arnaz dll.

Saya ingat pertama kali diajak oleh Ayah saya menonton bioskop bersama adik saya, sekitar umur 9 tahun (kelas III SD). Film yang kami tonton waktu itu adalah "Django" yang dibintangi Franco Nero, bercerita mengenai koboi jago tembak, pahlawan yang membasmi kejahatan. Saya juga bingung kok bisa masuk bioskop waktu itu, padahal umur saya belum cukup .. apalagi jika melihat bahwa di film itu ada adegan2 yang "belum" boleh saya tonton..he..he..he.

Setelah beberapa lama, saya sudah berani menonton film bersama teman, atau bahkan sendiri. Bahkan jaman marak film kolosal yang diangkat dari Sandiwara Radio, saya bersama ibu dan adik berdesak-desakan di Mayestic Theater untuk menonton premiere film tersebut (kalau tidak salah,..Satria Madangkara, dengan tokoh utama Brama Kumbara). Untungnya televisi kita waktu itu hanya memiliki satu channel (TVRI only), kalau saja saya bisa melihat film animasi Hollywood di jaman itu, tentu saya pasti terbahak-bahak menyaksikan replika burung yang dinaiki Brama Kumbara, yang sangat "tidak realistis"..

Mari kita masuk ke topik utama : Apakah film, dalam tingkatan tertentu dapat mempengaruhi sikap manusia ? Saya menjawab : "Tentu." Ketika menyaksikan sebuah tontonan, entah musikal atau tidak, selalu ada nilai yang berproses dalam diri manusia. Nilai-nilai itu akan berinteraksi dengan raw material si manusia, dan dalam level selanjutnya akan mempengaruhi atau bahkan memotivasi tindakan-tindakannya di masa depan.

Ada beberapa film yang pernah sangat mempengaruhi saya, sebut saja Cross Roads (Ralph Machio, Joe Seneca) yang menambah kecintaan saya terhadap blues music dan "menggigit" saya untuk mempelajari instrumen gitar di tahun ‘89, Ghost (Demi Moore, Patrick Swayze) yang saya tonton di Kalibata sehabis pelantikan Paskibra di tahun 92, dan saya jadi tahu kenapa banyak KDM (Korban Demi Moore) waktu itu he..he..he.., Dancing With Wolves (Kevin Costner, dan dia mendapatkan Oscar untuk film ini) yang mengantarkan saya pada pemahaman dan penghormatan atas nilai2 kemanusiaan dan patriotisme (bahkan saya menontonnya 3 x), Braveheart (Mel Gibson) tahun ‘94 yang mengajarkan saya kekuatan sebuah prinsip., dan beberapa yang lain.

Begitu kuatnya nilai-nilai yang ditanamkan dalam film-film tersebut, sehingga,.bahkan saya masih mengingat beberapa detail dialog dan scene (atau ini karena saya memiliki photographic memory..he..he..he..??).

Yang pasti, film pasti mempengaruhi kehidupan kita. Tinggal bagaimana kita menangkap, mengolah dan mengambil nilai-nilai yang kita anggap baik, dan membuang yang tidak sesuai.

Of course, it’s not that simple, apalagi jika kita memiliki selera untuk menonton film-film yang tidak "bermutu"  :)

Salam,

Mas Jabier

2 Responses to “Film dan Kehidupan : Connected ?”

  1. Andry Says:

    IMHO, film memang refleksi budaya. jelas ada bumbu utopis sebagai market’s luring, tapi itu sudah cukup menggambarkan.

    Teori saya dalam contoh : Karena kultur indo yang masih kecanduan jalan pintas supranatural, maka tontonan “berhantu” jadi konsumsi laris. Bahkan jika film itu sangat jelek dan memalukan tetep laris kalo ada unsur “penampakan”.

  2. Sanip Says:

    (IMCO)In My Confuse Opinion , “Sad Movie Always makes me ‘MBM’” ini istilah salah satu teman saya jaman dulu ‘mrembes mili’ dari bahasa jawa untuk air mata yang berlinang-linang … ya gw rasa ada hubunganya yach…!!!

Leave a Reply