Kisah Para Diktator
"Ketika kediktatoran menjadi kenyataan, maka revolusi menjadi sebuah kebenaran."
Victor Hugo
Tadi malam, saya membuka-buka kembali buku "Kisah Para Diktator : Sebuah Biograpi singkat" karangan Jules Verne. Sebenarnya saya sudah pernah membacanya, tapi saya tergerak membaca kembali, disamping karena memang saya susah tidur jika tidak membaca sesuatu, ada satu tokoh yang ingin saya baca di buku itu : Soekarno.
Apakah Soekarno seorang diktator ? Menurut definisi diktator itu sendiri, jelas Ya. Kita semua tahu di era Demokrasi Terpimpin dimana semua kekuasaan terpusat pada Soekarno, pada saat itulah kita tahu bahwa ia sudah menjadi seorang diktator dengan beragam gelar : Pemimpin Besar Revolusi, Pimpinan Tertinggi Angkatan Perang, dll. Saya sendiri adalah pengagum Soekarno, dengan segala kelebihan dan kekurangannya sebagai manusia biasa.
Tidak dapat disangkal, diktator adalah orang-orang yang dianugerahi kecerdasan yang sangat tinggi. Hitler, Mussollini, Franco, Castro untuk menyebut tokoh2 cerdas yang mampu menggunakan kesempatan, mengatur sumberdaya untuk mengambil alih kekuasaan, baik secara fisik/militer maupun secara demokratis. Dalam bahasa singkat, mereka mempunya IQ yang tinggi.
Bagaimana dengan EQ (Emotional Quotient) ? Jelas, mereka sebagian besar memilikinya. Jika tidak, bagaimana mungkin seorang Mao Tse Tung mampu membawa 100 ribu pengikutnya melakukan long march dari Kiangsi, melewati ratusan pertempuran, belasan sungai, puluhan jurang dengan penuh ketenangan dan perhitungan ? Bagaimana mungkin seorang Castro, mampu berteriak di depan pengadilan Batista : "Bunuhlah aku, dan sejarah akan mengingatku ! " dengan gagah berani dan tenang ?
Lalu apa yang membuat mereka menjadi Diktator ? Ary Ginanjar Agustian mengatakan hilangnya faktor S (Spiritual) dalam kelebihan IQ dan EQ mereka. Kalau saja mereka memiliki S, sehingga menjadi ESQ, yang terjadi tentu tidaklah sebuah kediktatoran, akan tetapi sebuah amanah kepemimpinan untuk memakmurkan dan menyejahterakan rakyat.
So, I read again Ary’s book : ESQ (Emotional Spiritual Quotient), yang sebenarnya juga sudah saya baca..ha..ha..ha..:) Tapi ya itulah, tidak mudah bagi orang seperti saya untuk langsung tidur tanpa membaca terlebih dahulu.
Kali ini saya membacanya dengan pelan-pelan, mencoba mencari berbagai hubungan. Insya Allah, analisa saya mengenai buku ini akan saya bagikan dalam posting mendatang.
Jadi, masih tertarik menjadi diktator ?
Denpasar, April 2005
Salam,
Mas Jabier