Plagiator, Dimanakah engkau ?
Joe Millionaire. Topeng. xxx Ilahi. xxx Ilahi. Dan lain-lain.
Beberapa hari kita melihat tampilan sinetron-sinetron, reality show dan lain sebagainya, yang bagi saya, banyak nuansa plagiat. Lihatlah Joe Millionaire, acara yang sebaiknya tidak usah ditonton, dan sangat jauh dari versi asalnya di Amerika. Come on guys, be creative ! Apa tidak ada versi lain yang lebih membumi, dan –ini pendapat personal saya–, it’s not good to sell "love" either tragic or comedy, for public consumption.
Indonesia memang aneh. Saat jaman acara-acara berbau magis tampil populer di TV, maka berduyun-duyun TV lain memproduksinya. Gentayangan, Dunia Lain, Pemburu hantu (Ghostbuster), Dunia Ghaib dll yang cuman memainkan akal2an plus acting pantomim yang bisa diberi acungan jempol kaki. Saat ini, ketika sinetron berbau religius (meskipun masih ada unsur klenik + magic) populer, maka beramai-ramai TV lain memproduseri acara yang sama : Takdir Ilahi, Kuasa Ilahi, TV Legenda, Astagfirullah, dan lain-lain.
Benarkah kita hanya terpaku pada trend, mode, apa yang laku dan tidak, tanpa membuat sebuah modifikasi cerdas dari apa yang ingin kita tiru ? LIhatlah sinetron "Topeng", yang jelas-jelas plagiat dari "The Mask" yang menjadi debut Jim Carrey di tahun 95 ? Saya juga pernah mementaskan naskah "Topeng Bah !" yang saya tulis sendiri bersama Teater Tiyang Alit di tahun 1996, but it’s totally different situation & theme. Lihatlah sinetron itu : seseorang secara tidak sengaja menemukan topeng, memakainya, dan berubah menjadi individu lain dengan kemampuan2 supranatural. Dan bandingkan dengan "The Mask".
Cobalah liat proses kreatif Quentin Tarantino, yang membuat sekuel Kill Bill. Jelas-jelas dia mengakui bahwa karya itu di-ilhami dari film lokal Jepang (saya lupa namanya), tapi dia memodifikasi, –dan bahkan — "menafsirkan" sehingga menjadi khas Hollywood, dan enak dilihat.
Lihat juga acara kontes2, yang dengan cepat diikuti acara kontes Model, Dangdut, AFI Junior (C’mon guys, they’re just kids !), dan lain-lain. Tampaknya, pengekoran, telah menjadi bagian dari budaya kita.
Maaf, bukan berarti saya mewajibkan bahwa kita harus selalu menemukan judul baru, theme baru atau apa lah. Para penyair juga sering melakukan penafsiran atas suatu karya, dan itu bukan plagiat. Kata-kata "inspired by" menjadi sangat populer di beberapa lagu, film atau cerita.
Hanya, kita harus menulis kembali dengan cerdas. Konteks yang berbeda. Konflik yang lebih localized, atau bahkan menambahkan keunikan dari gaya kita masing-masing ke dalam suatu karya. Dan bagi saya, itu adalah suatu proses kreatif yang berdiri sendiri.
Salam,
Denpasar, April 2005