Simbolisme dan Formalisme dalam Kehidupan Spiritual
"Tuhan, Engkau tahu aku seorang illiterate, buta huruf dan tidak mengerti bagaimana seharusnya berdo’a kepadamu dengan benar. Karena itu, aku serahkan kumpulan huruf dalam surat ini, aturlah sesuka-Mu menjadi do’a yang terbaik, karena Engkaulah Sang Maha Indah. Padamu hanya kuserahkan ketulusan dan kepasrahan.."
Sebuah penggalan dari kisah Do’a Sang Katak, karangan Pater De Mello, yang saya kagumi karena esensinya yang mendalam.
Semangat simbolisme (baca:formalisme) dalam beragama, sudah dimulai jauh-jauh hari, bahkan ketika suatu bentuk budaya yang bernama agama, lahir ke muka bumi ini. Semangat ini ditandai dengan menguatnya unsur-unsur puritanisme, lembaga yang memiliki kekuasaan yang sangat besar, dan aturan-aturan kaku yang hanya berbicara benar dan salah, tanpa memahami hubungan sebab akibat dan kondisi yang berlaku.
Tradisi agama-agama besar juga pernah (dan mungkin) masih dipenuhi dengan kuatnya simbolisme dan formalisme dalam kesehariannya. Kristen Katolik dengan lembaga kepausan, doktrin-doktrin Nicea (yang kemudian di-revisi dalam kaitannya dengan wanita dan ilmu pengetahuan), Islam pada masa kekhalifahan Abbasiyah yang menjadi ajang perseteruan antara Sunnah-Syiah yang sebenarnya lebih bertendensi politis ketimbang teologis, Budha pada masa awal pembentukan Aliran Zen Mahayana di Cina dan lain-lain.
Kekakuan dalam menerima doktrin tanpa mau melihat perkembangan kehidupan manusia, dan penghormatan berlebihan terhadap simbol, menjadikan prinsip formalisme ini menjadi sebuah kekuatan politik, –yang dengan demikian–, memiliki kekuatan untuk menghukum, siapa saja yang dianggap tidak sealiran,..dus tidak sesuai dengan pesan yang tercantum dalam kitab suci.
Kita sekali lagi dihadapkan dengan insiden simbolisme ini pada band Dewa, yang menggunakan kaligrafi sebagai cover, versus FPI yang mewakili sisi formal dalam agama. Kejadian yang sama pernah juga dialami Iwan Fals pada cover kaset dan CD-nya.
Saya pernah bertanya kepada seorang rekan : "Ketika engkau memandang salib, apa yang kamu pandang paling penting, simbol salib, Yesus yang disalibkan, atau nilai-nilai universal yang dibawa oleh orang yang disalibkan (Yesus) ?" . Teman saya menjawab yang terakhir, yang artinya dia telah ada pada tahap diatas formalisme dalam beragama, dia sudah mencapai esensi dalam beragama.
Sama seperti Maulid Nabi yang kita peringati setiap tahun, jika kita melakukannya sekedar sebagai sebuah ritus, maka kita terjebak dalam formalisme agama. Sudah sepatutnya kita memperingatinya untuk meneladani kepribadian Muhammad SAW, dan yang lebih penting, menggapai esensi ajaran-ajarannya.
Semangat formalisme dan simbolisme yang berlebihan dalam beragama, hanya mengantarkan kita untuk menjadi fanatik tanpa makna. Dalam "Kiai Sudrun Gugat", Emha Ainun Nadjib menafsirkan simbolisme ini sebagai sebuah pendangkalan akidah, yang berujung pada fanatisme buta, dan politisasi agama. Hassan Hanafi, dalam "Kiri Islam" memandang formalisme agama adalah hal sempit yang harus dihindari, karena sesungguhnya agama, sebagai sebuah ajaran moral, harus ditempatkan dalam sebuah kerangka pengajaran dan kearifan universal. Sebagai sebuah ajaran universal, dialah yang harus membatasi nilai-nilai lain yang akan selalu berubah dari waktu ke waktu, bukan terjebak dalam sebuah bingkai formalisme dan simbolisme yang kaku.
Jadi, mari lepaskanlah simbol dan baju formal kita, dan mari kita mencari esensi dari simbol-simbol atau kaidah2 formal yang ada dalam agama kita masing-masing. Schimmel, dalam "Mysticism in Islam" mengasumsikan, dan saya sependapat dengan beliau, kita akan sampai pada titik yang tidak terlalu berbeda,– atau bahkan sama–, ketika mencari esensi ini.
Salam,
Denpasar, April 2005
Mas Jabier
May 28th, 2005 at 2:53 pm
sepakat. simbolisme seringkali justru mengarahkan kita pada pendangkalan akidah. Akan tetapi ’simbol’ itu sendiri juga memiliki makna yang penting, dan karenanya kita musti punya kepekaan terhadap makna simbolik, meskipun kita tidak ingin terjebak simbolism. Bukankah seniman mendapatkan penghargaan karena kepekaannya terhadap makna simbolik? ketika kita melakukan protes dengan aksi teatrikal, bukankah kita memanfaatkan kekuatan simbol ? ketika bangsa ini membuat bendera merah putih, bukankah itu berarti kita mengakui kebutuhan akan simbol ? ketika seorang anak muda datang ke sebuah aksi dengan memakai kaos bergambar che, maka kita mafhum ada ’sesuatu’ yang ingin dia sampaikan. Ketika teman-teman lebih suka memakai warna merah sebagai latar belakang bendera, maka kita mengerti apa yang coba disampaikan. Kepekaan inilah yang akan mengarahkan kita untuk menempatkan simbol sesuai pemaknaannya. Apalagi terhadap simbol-simbol yang tidak eksklusif, simbol yang telah menjadi milik umum. Makanya kita tidak memakai baju warna pink ke pemakaman, meskipun hal itu tidak akan membuat si mayat bangun lagi.
Ketika Dani perform dengan kalung bintang david dan menginjak karpet yang diketahui bergambar lafadz Allah, menurut saya hanya ada dua kemungkinan : yang pertama Dani yang mengetahui makna semua simbol yang dipakainya, sengaja memakai simbol itu untuk menunjukkan ’sesuatu’, atau yang kedua sebagai seniman Dani sebenarnya tidak memiliki kepekaan simbolik.
by the way, saya pikir setelah semua konfirmasi yang terjadi, memperpanjang masalah Dani ini justru tidak membuat kemaslahatan. Taushiah yang baik saya pikir akan lebih menyejukkan siapa pun, Dani sendiri dan juga umat yang ingin dilindungi para ulama. Allahu a’lam bish showab