<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?><rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom"
	>
<channel>
	<title>Comments on: Simbolisme dan Formalisme dalam Kehidupan Spiritual</title>
	<atom:link href="http://jabier.blog.friendster.com/2005/04/simbolisme-dan-formalisme-dalam-kehidupan-spiritual/feed/" rel="self" type="application/rss+xml" />
	<link>http://jabier.blog.friendster.com/2005/04/simbolisme-dan-formalisme-dalam-kehidupan-spiritual/</link>
	<description></description>
	<pubDate>Mon, 28 Dec 2009 23:50:12 +0000</pubDate>
	<generator>http://wordpress.org/?v=2.6.2</generator>
		<item>
		<title>By: Fajar</title>
		<link>http://jabier.blog.friendster.com/2005/04/simbolisme-dan-formalisme-dalam-kehidupan-spiritual/#comment-6</link>
		<dc:creator>Fajar</dc:creator>
		<pubDate>Sat, 28 May 2005 21:53:09 +0000</pubDate>
		<guid isPermaLink="false">http://jabier.blog.friendster.com/2005/04/simbolisme-dan-formalisme-dalam-kehidupan-spiritual/#comment-6</guid>
		<description>sepakat. simbolisme seringkali justru mengarahkan kita pada pendangkalan akidah. Akan tetapi 'simbol' itu sendiri juga memiliki makna yang penting, dan karenanya kita musti punya kepekaan terhadap makna simbolik, meskipun kita tidak ingin terjebak simbolism. Bukankah seniman mendapatkan penghargaan karena kepekaannya terhadap makna simbolik? ketika kita melakukan protes dengan aksi teatrikal, bukankah kita memanfaatkan kekuatan simbol ?  ketika bangsa ini membuat bendera merah putih, bukankah itu berarti kita mengakui kebutuhan akan simbol ? ketika seorang anak muda datang ke sebuah aksi dengan memakai kaos bergambar che, maka kita mafhum ada 'sesuatu' yang ingin dia sampaikan. Ketika teman-teman lebih suka memakai warna merah sebagai latar belakang bendera, maka kita mengerti apa yang coba disampaikan. Kepekaan inilah yang akan mengarahkan kita untuk menempatkan simbol sesuai pemaknaannya. Apalagi terhadap simbol-simbol yang tidak eksklusif, simbol yang telah menjadi milik umum. Makanya kita tidak memakai baju warna pink ke pemakaman, meskipun hal itu tidak akan membuat si mayat bangun lagi.

Ketika Dani perform dengan kalung bintang david dan menginjak karpet yang diketahui bergambar lafadz Allah, menurut saya hanya ada dua kemungkinan : yang pertama   Dani yang mengetahui makna semua simbol yang dipakainya, sengaja memakai simbol itu untuk menunjukkan 'sesuatu', atau yang kedua sebagai seniman Dani sebenarnya tidak memiliki kepekaan simbolik.

by the way, saya pikir setelah semua konfirmasi yang terjadi, memperpanjang masalah Dani ini justru tidak membuat kemaslahatan. Taushiah yang baik saya pikir akan lebih menyejukkan siapa pun, Dani sendiri dan juga umat yang ingin dilindungi para ulama. Allahu a'lam bish showab
</description>
		<content:encoded><![CDATA[<p>sepakat. simbolisme seringkali justru mengarahkan kita pada pendangkalan akidah. Akan tetapi &#8217;simbol&#8217; itu sendiri juga memiliki makna yang penting, dan karenanya kita musti punya kepekaan terhadap makna simbolik, meskipun kita tidak ingin terjebak simbolism. Bukankah seniman mendapatkan penghargaan karena kepekaannya terhadap makna simbolik? ketika kita melakukan protes dengan aksi teatrikal, bukankah kita memanfaatkan kekuatan simbol ?  ketika bangsa ini membuat bendera merah putih, bukankah itu berarti kita mengakui kebutuhan akan simbol ? ketika seorang anak muda datang ke sebuah aksi dengan memakai kaos bergambar che, maka kita mafhum ada &#8217;sesuatu&#8217; yang ingin dia sampaikan. Ketika teman-teman lebih suka memakai warna merah sebagai latar belakang bendera, maka kita mengerti apa yang coba disampaikan. Kepekaan inilah yang akan mengarahkan kita untuk menempatkan simbol sesuai pemaknaannya. Apalagi terhadap simbol-simbol yang tidak eksklusif, simbol yang telah menjadi milik umum. Makanya kita tidak memakai baju warna pink ke pemakaman, meskipun hal itu tidak akan membuat si mayat bangun lagi.</p>
<p>Ketika Dani perform dengan kalung bintang david dan menginjak karpet yang diketahui bergambar lafadz Allah, menurut saya hanya ada dua kemungkinan : yang pertama   Dani yang mengetahui makna semua simbol yang dipakainya, sengaja memakai simbol itu untuk menunjukkan &#8217;sesuatu&#8217;, atau yang kedua sebagai seniman Dani sebenarnya tidak memiliki kepekaan simbolik.</p>
<p>by the way, saya pikir setelah semua konfirmasi yang terjadi, memperpanjang masalah Dani ini justru tidak membuat kemaslahatan. Taushiah yang baik saya pikir akan lebih menyejukkan siapa pun, Dani sendiri dan juga umat yang ingin dilindungi para ulama. Allahu a&#8217;lam bish showab</p>
]]></content:encoded>
	</item>
</channel>
</rss>
