Archive for May, 2005

Shalat berbahasa Indonesia : Sebuah Ijtihad ?

Tuesday, May 10th, 2005

Shalat Agus Subhan, seorang sahabat saya, menanyakan bagaimana pendapat saya mengenai Shalat Dua Bahasa (Billingual, dalam bahasa Indonesia dan bahasa Arab), yang saat ini dipopulerkan oleh seorang "ulama" bernama Muhammad Usman Roy, dari Lawang, Jawa Timur. Agus, yang saya kenal memahami Islam dan ilmu-ilmunya  dengan baik, seorang santri by default dari Tuban, tentu sudah punya pendapat sendiri mengenai hal ini, dan tulisan ini saya buat sebagai sebuah bahan diskusi dengan dia.

Beberapa tahun yang lalu, seorang rekan saya pernah berujar dalam bahasa Arab : "Al-lughah al-’arabiyah hiya, al-lughah al-dirasaatul Islamiyyah, wa al-lughah al-ahlul jannah." artinya "Bahasa Arab itu, bahasa untuk memahami ilmu-ilmu Islam, dan juga bahasa para ahli surga." Anda boleh setuju atau tidak setuju dalam frasa kedua, tapi paling tidak, frasa pertama, bahwa bahasa Arab dipakai untuk memahami ilmu Islam (Qur’an, Hadits, Fiqh dll) tentulah tak dapat dibantah kebenarannya. Trus so, what gitu loh ? Mungkin teman saya yang lain bertanya.

Ini sama saja dengan analog bahwa anda harus menguasai bahasa Inggris, sebagai bahasa pergaulan dunia, bahasa ilmu pengetahuan dan lain-lain. Ada yang protes ? Tidak ada kan ! ? Kalau pun ada, Ya, silahkan, but I assure you that he will be piss off because he absolutely knows a little than he needs to be. Atau ambil contoh Rudolf Nureyev, pebalet sohor dari Russa, yang tahun pertamanya hanya belajar bahasa Perancis,–sebab bahasa Perancis adalah bahasa "pengantar" resmi dalam dunia balet–, walaupun dia orang Rusia, dan balet,..hmm,..tidak ada hubungan sama sekali dengan bahasa. So what ?

Itu masalah bahasa. Mari kita kembali ke kajian Shalat dua bahasa ini.
Usman Roy, katanya, melakukan sebuah ijtihad dalam mengambil keputusan ini. Ijtihad (terambil dari kata jahada - yujahidu - jihadan - ijtihadan) artinya "bersungguh-sungguh dan berusaha maksimal dalam melakukan suatu pekerjaan", secara istilah adalah suatu proses pengambilan keputusan dalam bidang tertentu dengan melakukan pertimbangan-pertimbangan/argumen-argumen yang dapat dipertanggunggjawabkan secara ilmiah, orang yang melakukannya disebut Mujtahid. Jadi ada ijtihad politik, ijtihad ekonomi, dan tentunya sebagai asal dari semuanya, ijtihad dalam bidang keagamaan (masaail diniyyah). Kita tentu ingat, seorang Amien Rais yang melakukan ijtihad dalam bidang politik ketika beliau membentuk partai baru PAN, instead of masuk ke PBB. Atau ijtihad ekonomi Anggiarto Abimanyu, ekonom UGM, yang mencoba teori valas baru untuk mendongkrak nilai rupiah. Dan ijtihad-ijtihad lain yang dilakukan oleh orang-orang yang ahli di bidangnya masing-masing (ambil contoh ijtihad saya untuk menggunakan FreeBSD instead of Linux dan Windows waktu di RAD-Net, ;-)).

Jadi, makna kata kesungguhan dalam etimologi ijtihad, bermakna kesungguhan dalam bidang ilmu (penguasaan ilmu), dan kesungguhan terhadap ilmu yang berkaitan dengan masalah yangyang akan diputuskan. Karena bisa jadi, ijtihad membutuhkan advis dan konsultasi dari ilmu lain (multidisipliner).

Nah, kalau dalam bidang agama ? Ini tentunya lebih "berbahaya" lagi implikasinya, karena menyangkut sisi dunia, dan akhirat. Tidak ada implikasi logis apapun bagi orang lain, kalau ijtihad saya waktu di RAD-Net ternyata salah, server crash, paling hanya menimpa customer RAD-Net saja. Tapi bagi masalah agama, dan apalagi bila kemudian disebarluaskan, diamalkan dan memiliki pengikut, tentu lain persoalannya.

Seorang mujtahid yang akan menghasilkan fatwa, jelas harus memiliki serangkaian ilmu alat (Bahasa Arab (meliputi nahwu, sharaf, manthiq, ba’di, ma’ani),Qur’an, Tafsir, Hadits, Ushul Fiqh, Fiqh, dll) dalam proses istimbath (proses pengambilan keputusan) dan harus diakui oleh otoritas ulama di zamannya. Begitulah yang kita lihat pada Syeikh Yusuf Qardhawi, Syaikh Bin Baz, Syeikh Mutawalli Sya’rawi, di zaman sekarang, atau imam-imam madzhab yang empat : Imam Syafi’i ra, Imam Malik bin Anas ra, Imam Abu Hanifah ra, dan Imam Ahmad bin Hanbal. Sebagai contoh, Imam Syafi’i baru diberi izin berfatwa oleh Imam Malik, guru beliau, saat usia 17 tahun, padahal beliau sudah hafal Quran umur 9 tahun, kitab hadits Muwatha karya Imam Malik pada usia belasan, dan ilmu-ilmu lain.

Usman Roy, jelas tidak memiliki kapasitas untuk melakukan ijtihad, yang berakhir pada keputusan Shalat Dua bahasa itu. Bagi saya, ide ini cukup kreatif pada awalnya, cuma saja kreatifitas dalam bidang ibadah bukanlah sebuah "kreatifitas", yang perlu kita lakukan hanya mengikuti dan berusaha mempelajari apa yang telah diberikan oleh Kanjeng Nabi. Kalau masalah pemikiran dan wacana, silakan melakukan kreasi sebanyak-banyaknya. Ada sebuah pepatah : "Tanyalah suatu permasalahan pada ahlinya". Usman Roy, –selayaknya bertanya pada guru beliau–, yang katanya ada di Surabaya, sebelum keblinger seperti ini.

Kalau saya ?? Wah, kalau saya "boleh" berijtihad, maka saya akan bikin Shalat PaHE (Paket Hemat) untuk kaum professional, kombinasi Dzuhur, Ashar, Maghrib cukup 3 raka’at saja. Ringkas, dan tidak akan terjebak kemacetan dan lunch. Untunglah Gusti Allah masih memberikan saya rasa takut, dan memberikan saya waktu untuk bertanya kepada mereka yang lebih ahli dalam masalah agama :)

Allahumma, Inni a’udzubika minal jaahilin, wa innahum la ya’lamuna ma yaf’aluun, wa innaka anta ‘l-Wahhab.
Ya Allah, sungguh aku berlindung kepada-Mu dari (tipu daya) orang-orang bodoh (karena sesungguhnya mereka tidak tahu apa yang mereka perbuat), dan (sungguh)Engkaulah Maha Pemberi Karunia.

Denpasar, Mei 2005

Mas Jabier

Quo Vadis Kantin ITS ?

Friday, May 6th, 2005

“Tidak ada privilege yang abadi. Yang abadi hanyalah rakyat” -Mira Bauw-

Kantin ITS, medio Agustus 1995
Kepulan-kepulan asap rokok ditingkahi dengan tegukan kopi hitam kental, asyik mengiringi diskusi-diskusi yang diadakan oleh (waktu itu) GPK, sebuah singkatan dari Gerombolan Penghuni Kantin ITS, dengan logonya yang begitu manis, sendok– dan garpu– ditingkahi senyum sebuah wajah lucu. Tema diskusi beragam, dari mulai yang ringan-ringan mengenai kemahasiswaan ITS, tipikal cewek ITS, hingga yang agak berat — agama, politik, kondisi kekinian, subversif, dan sangat berat menyentuh wilayah filsafat yang kadang-kadang bikin orang gak mudheng. Dengan peserta yang dari background yang variatif : QueCheng yang progresif-revolusioner, Munawar si santri gendheng dari JMMI, Sidhi Kapal 92 yang ngelothok masalah peradaban Russia dan Leninis sejati, Seto si Menwa gendheng, dengan gesture-gesture yang bisa dimasukkan dalam komik, beberapa penganut SosDemIs (Sosialisme-Demokrat-Islam), sebuah martabak campuran ideologi seperti saya, Buki, Hanas “Genjik” dan Iman, Danang yang macak bijak, Firman yang “cool” dan lain-lain. Diskusi-diskusi yang lain mengalir, dengan sebuah keinginan mencari kearifan universal dengan berbekal latar belakang kami yang beragam waktu itu.

Hampir 4 tahun kemudian, ditahun 1999 ,ketika saya sudah tidak begitu aktif lagi di Kantin ITS, hanya sesekali menyambangi, GPK sudah jauh bertransformasi menjadi sebuah gerakan yang lebih “structurized”, KAMI. Hanya, sayangnya, ada satu yang hilang dari metamorfosis tsb : Kalau GPK, yang lebih cair, person-personnya memiliki dan aktif mengembangkan diskursus untuk olah pikir dan interaksi dengan berbagai elemen aliran melalui diskusi dan bacaan, maka KAMI, setidaknya pada saat itu, lebih banyak termakan isu gerakan dan sangat kurang dalam pemahaman wacana. Bayangkan, seorang “tokoh” KAMI pada waktu itu, tidak tahu apa itu MADILOG, penguasaan dialektika yang pas-pasan, bisa mengucap dengan fasih nama-nama Marx, Nietszhe, Goethe, Habermass, tapi tidak tahu apa itu “ideologi” kiri. Sama saja kita mencoba memahami pikiran Marx tanpa membaca “Das Kapital”, dan memahami gerakan kiri tanpa membaca Manifesto Communist. How come ?

Dengan tingkat penguasaan wacana seperti itu, wajar jika kemudian KAMI menjadi bulan2an dalam beberapa aksinya di kemudian hari, karena tidak cerdas dalam menganalisis issue-issue gerakan, dan hanya menjadi sebuah alat demo tanpa ada proses pembelajaran.

Itu kantin yang dulu, tentunya sekarang jauh berubah. Menjadi lebih hedonis atau feminis ? ;-) Bagi saya, apapun itu, kantin ITS adalah tempat dimana saya pernah banyak belajar, berorganisasi, dan semoga semangat pembelajaran itu tetap terus terpelihara. That is , what I called as, the spirit of GPK .. Semoga.

Salam,

Mas Jabier
Aktivis Kantin (GPK) 1994-1996, Senat ITS (1996-1997) dan Teater Tiyang Alit (1997-1999).

Wajah Dunia Pendidikan Indonesia

Monday, May 2nd, 2005

Ki_hajar Rekan saya hapal mati kata-kata ujaran dari Ki Hajar Dewantara, bapak Pendidikan Indonesia : "Als ik Nederlander waas", if I were a Dutchman, yang ditulisnya dalam sebuah edisi suratkabar pertengahan tahun 1920-an. Sebuah sindiran yang tajam (satire) kepada tingkah laku kolonialis Belanda pada waktu itu, menindas dan berfoya-foya ditengah bangsa yang dijajahnya.

Kita mafhum, pendidikan adalah kunci utama dari sebuah perubahan, karena dengan pendidikan, rakyat yang bodoh menjadi tahu, dari tahu akan dapat mengambil sikap dan tindakan. Model pembelajaran seperti ini akan terus berulang, dan jika masyarakat sudah semakin terdidik, –yang oleh Nurcholis Madjid disebut sebagai embrio civil society–, inilah yang akan menjadi kekuatan utama kontrol terhadap pemerintah.

Apakah dunia pendidikan kita, setelah hampir 60 tahun merdeka, mengalami peningkatan yang signifikan ?

Saya bilang sih tidak. Kita cukup mengganti kata benda Belanda, dengan kata benda Indonesia Kaya. Jadi :
"Pendidikan berkualitas hanya dinikmati oleh mereka yang [Indonesia Kaya],
Hanya [Indonesia Kaya] yang dapat menikmati pendidikan tinggi yang baik, fasilitas kesehatan yang baik, dan kehidupan sosial yang baik;
Dengan tiket masuk universitas yang aje gile, kembali hanya [Indonesia Kaya] yang berhak menikmatinya;
dan lain-lain" [full of crap]

Bagi saya, karena pendidikan adalah kunci perubahan, maka pendidikan haruslah dibuat murah, –dan kalau perlu gratis–, bagi mereka yang memang berbakat, cerdas, pandai, tapi tidak memiliki dana finansial yang cukup untuk pergi ke sekolah.

Saya (mungkin) beruntung dapat menikmati pendidikan tinggi, tapi saya juga merasa jauh lebih beruntung, karena ditengah kondisi finansial yang begitu pas-pasan, saya dapat melaluinya dengan baik.

Selamat Hari Pendidikan !

Denpasar, Mei 2005

Mas Jabier

Para Buruh Sedunia, Bersatulah !

Sunday, May 1st, 2005

PeterboroBegitulah kurang lebih, teriakan Vladimir Ilyich Lenin, dalam sebuah episode Iskra (cetusan), sebuah newsletter yang dibuatnya di awal tahun 1900-an. Sebuah ajakan untuk menggalang kekuatan, tanpa memandang batas-batas nasion dan teritorial, untuk memperjuangkan kepentingan-kepentingan kaum buruh. Kata-kata ini sempat mengilhami Rendra dalam sajaknya : "Para pelacur kota Jakarta, bersatulah !"

Sejarah buruh jauh lebih muda ketimbang kaum tani, yang sudah lebih dahulu ada dan secara natural menjadi bentuk paling awal dari profesi manusia. Ketika pekerjaan-pekerjaan baru mulai muncul selain kegiatan agraris seiring majunya peradaban manusia (tukang besi, perajin, tukang bangunan dll), maka buruh mulai terbentuk sebagai sebuah profesi tersendiri, terpisah dari nelayan/petani.  Episode dalam sejarah yang paling menggelembungkan jumlah kaum buruh tentu saja Revolusi Industri, yang bermula di Inggris dengan ditemukannya mesin uap oleh , menggiatkan proses industrialisasi Eropa, yang kemudian terbawa ke Amerika.

Pada kondisi kekinian, apa sebenarnya yang dapat disebut buruh ?
Sederhananya, siapa saja yang bekerja (pada) orang lain dan mendapatkan upah, disebut buruh. So, as long as you’re working for another person (called employers or bosses), you’re a labour ! Saya, anda, teman2 pegawai negeri (Negara sebagai boss), dan lain-lain kebanyakan dari kita yang tiap bulan mendapat gaji, kerja tiap hari hari from nine to five, berdesak-desakan di transportasi umum memakai kemeja dan membawa tas tangan atau membawa mobil mewah sambil disupiri, but you still get salary, not your own company ! Itulah buruh, yang ada adalah kategorisasi buruh : ada buruh berdasi dan tidak berdasi, buruh kaya dan buruh miskin, buruh intelek & buruh kasar, buruh TI dan buruh non-TI (ini personal,..he..he..he..) :)

Kita harus mengakui, fakta di lapangan masih banyak berbicara mengenai penindasan yang dialami oleh kaum buruh di banyak negara, khususnya di Indonesia. Gaji yang tidak cukup, jaminan kesehatan dan asuransi yang tidak memadai, dan lain-lain.  Negara masih memikirkan  dan lebih mementingkan  sekelompok  orang  yang berdiri di  golongan investor, ketimbang  buruh yang jumlahnya mungkin 100x lebih banyak.

Jadi kepada pemerintah yang berkuasa : tetapkan upah yang layak, hilangkan penindasan kepada kaum buruh, berikan jaminan masa depan yang lebih baik kepada buruh, dan kondisikan suasana yang lebih kondusif antara pengusaha-buruh dalam koridor demokrasi dan saling menghormati. Buruh-buruh di negara maju –yang notabene kapitalis–, dengan organisasi yang lebih baik dan tingkat partisipasi publik yang baik, memang jauh lebih baik dari Indonesia. Bahkan Cina Komunis, Kuba, dan beberapa negara komunis lain jauh lebih baik, karena mereka dikontrol oleh lembaga Negara. Dan ingatlah, Partai Buruh adalah partai yang bergengsi di Inggris & Australia, yang aslinya berasal dari kaum buruh.

Mari kita memaknai 1 Mei  (Internationale Day), Hari Buruh, sebagai langkah awal untuk merenungi segala kondisi kekinian yang ada dalam lingkup buruh di Indonesia, dan berusaha memperbaikinya secara sistematis dan organisatoris.

Jadi, para buruh se-Indonesia, bersatulah !

Mas Jabier
–bagian dari buruh Indonesia–