Para Buruh Sedunia, Bersatulah !
Begitulah kurang lebih, teriakan Vladimir Ilyich Lenin, dalam sebuah episode Iskra (cetusan), sebuah newsletter yang dibuatnya di awal tahun 1900-an. Sebuah ajakan untuk menggalang kekuatan, tanpa memandang batas-batas nasion dan teritorial, untuk memperjuangkan kepentingan-kepentingan kaum buruh. Kata-kata ini sempat mengilhami Rendra dalam sajaknya : "Para pelacur kota Jakarta, bersatulah !"
Sejarah buruh jauh lebih muda ketimbang kaum tani, yang sudah lebih dahulu ada dan secara natural menjadi bentuk paling awal dari profesi manusia. Ketika pekerjaan-pekerjaan baru mulai muncul selain kegiatan agraris seiring majunya peradaban manusia (tukang besi, perajin, tukang bangunan dll), maka buruh mulai terbentuk sebagai sebuah profesi tersendiri, terpisah dari nelayan/petani. Episode dalam sejarah yang paling menggelembungkan jumlah kaum buruh tentu saja Revolusi Industri, yang bermula di Inggris dengan ditemukannya mesin uap oleh , menggiatkan proses industrialisasi Eropa, yang kemudian terbawa ke Amerika.
Pada kondisi kekinian, apa sebenarnya yang dapat disebut buruh ?
Sederhananya, siapa saja yang bekerja (pada) orang lain dan mendapatkan upah, disebut buruh. So, as long as you’re working for another person (called employers or bosses), you’re a labour ! Saya, anda, teman2 pegawai negeri (Negara sebagai boss), dan lain-lain kebanyakan dari kita yang tiap bulan mendapat gaji, kerja tiap hari hari from nine to five, berdesak-desakan di transportasi umum memakai kemeja dan membawa tas tangan atau membawa mobil mewah sambil disupiri, but you still get salary, not your own company ! Itulah buruh, yang ada adalah kategorisasi buruh : ada buruh berdasi dan tidak berdasi, buruh kaya dan buruh miskin, buruh intelek & buruh kasar, buruh TI dan buruh non-TI (ini personal,..he..he..he..)
Kita harus mengakui, fakta di lapangan masih banyak berbicara mengenai penindasan yang dialami oleh kaum buruh di banyak negara, khususnya di Indonesia. Gaji yang tidak cukup, jaminan kesehatan dan asuransi yang tidak memadai, dan lain-lain. Negara masih memikirkan dan lebih mementingkan sekelompok orang yang berdiri di golongan investor, ketimbang buruh yang jumlahnya mungkin 100x lebih banyak.
Jadi kepada pemerintah yang berkuasa : tetapkan upah yang layak, hilangkan penindasan kepada kaum buruh, berikan jaminan masa depan yang lebih baik kepada buruh, dan kondisikan suasana yang lebih kondusif antara pengusaha-buruh dalam koridor demokrasi dan saling menghormati. Buruh-buruh di negara maju –yang notabene kapitalis–, dengan organisasi yang lebih baik dan tingkat partisipasi publik yang baik, memang jauh lebih baik dari Indonesia. Bahkan Cina Komunis, Kuba, dan beberapa negara komunis lain jauh lebih baik, karena mereka dikontrol oleh lembaga Negara. Dan ingatlah, Partai Buruh adalah partai yang bergengsi di Inggris & Australia, yang aslinya berasal dari kaum buruh.
Mari kita memaknai 1 Mei (Internationale Day), Hari Buruh, sebagai langkah awal untuk merenungi segala kondisi kekinian yang ada dalam lingkup buruh di Indonesia, dan berusaha memperbaikinya secara sistematis dan organisatoris.
Jadi, para buruh se-Indonesia, bersatulah !
Mas Jabier
–bagian dari buruh Indonesia–