Quo Vadis Kantin ITS ?
“Tidak ada privilege yang abadi. Yang abadi hanyalah rakyat” -Mira Bauw-
Kantin ITS, medio Agustus 1995
Kepulan-kepulan asap rokok ditingkahi dengan tegukan kopi hitam kental, asyik mengiringi diskusi-diskusi yang diadakan oleh (waktu itu) GPK, sebuah singkatan dari Gerombolan Penghuni Kantin ITS, dengan logonya yang begitu manis, sendok– dan garpu– ditingkahi senyum sebuah wajah lucu. Tema diskusi beragam, dari mulai yang ringan-ringan mengenai kemahasiswaan ITS, tipikal cewek ITS, hingga yang agak berat — agama, politik, kondisi kekinian, subversif, dan sangat berat menyentuh wilayah filsafat yang kadang-kadang bikin orang gak mudheng. Dengan peserta yang dari background yang variatif : QueCheng yang progresif-revolusioner, Munawar si santri gendheng dari JMMI, Sidhi Kapal 92 yang ngelothok masalah peradaban Russia dan Leninis sejati, Seto si Menwa gendheng, dengan gesture-gesture yang bisa dimasukkan dalam komik, beberapa penganut SosDemIs (Sosialisme-Demokrat-Islam), sebuah martabak campuran ideologi seperti saya, Buki, Hanas “Genjik” dan Iman, Danang yang macak bijak, Firman yang “cool” dan lain-lain. Diskusi-diskusi yang lain mengalir, dengan sebuah keinginan mencari kearifan universal dengan berbekal latar belakang kami yang beragam waktu itu.
Hampir 4 tahun kemudian, ditahun 1999 ,ketika saya sudah tidak begitu aktif lagi di Kantin ITS, hanya sesekali menyambangi, GPK sudah jauh bertransformasi menjadi sebuah gerakan yang lebih “structurized”, KAMI. Hanya, sayangnya, ada satu yang hilang dari metamorfosis tsb : Kalau GPK, yang lebih cair, person-personnya memiliki dan aktif mengembangkan diskursus untuk olah pikir dan interaksi dengan berbagai elemen aliran melalui diskusi dan bacaan, maka KAMI, setidaknya pada saat itu, lebih banyak termakan isu gerakan dan sangat kurang dalam pemahaman wacana. Bayangkan, seorang “tokoh” KAMI pada waktu itu, tidak tahu apa itu MADILOG, penguasaan dialektika yang pas-pasan, bisa mengucap dengan fasih nama-nama Marx, Nietszhe, Goethe, Habermass, tapi tidak tahu apa itu “ideologi” kiri. Sama saja kita mencoba memahami pikiran Marx tanpa membaca “Das Kapital”, dan memahami gerakan kiri tanpa membaca Manifesto Communist. How come ?
Dengan tingkat penguasaan wacana seperti itu, wajar jika kemudian KAMI menjadi bulan2an dalam beberapa aksinya di kemudian hari, karena tidak cerdas dalam menganalisis issue-issue gerakan, dan hanya menjadi sebuah alat demo tanpa ada proses pembelajaran.
Itu kantin yang dulu, tentunya sekarang jauh berubah. Menjadi lebih hedonis atau feminis ?
Bagi saya, apapun itu, kantin ITS adalah tempat dimana saya pernah banyak belajar, berorganisasi, dan semoga semangat pembelajaran itu tetap terus terpelihara. That is , what I called as, the spirit of GPK .. Semoga.
Salam,
Mas Jabier
Aktivis Kantin (GPK) 1994-1996, Senat ITS (1996-1997) dan Teater Tiyang Alit (1997-1999).