<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?><rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom"
	>
<channel>
	<title>Comments on: Shalat berbahasa Indonesia : Sebuah Ijtihad ?</title>
	<atom:link href="http://jabier.blog.friendster.com/2005/05/shalat-berbahasa-indonesia-sebuah-ijtihad/feed/" rel="self" type="application/rss+xml" />
	<link>http://jabier.blog.friendster.com/2005/05/shalat-berbahasa-indonesia-sebuah-ijtihad/</link>
	<description></description>
	<pubDate>Mon, 28 Dec 2009 23:51:12 +0000</pubDate>
	<generator>http://wordpress.org/?v=2.6.2</generator>
		<item>
		<title>By: arifin</title>
		<link>http://jabier.blog.friendster.com/2005/05/shalat-berbahasa-indonesia-sebuah-ijtihad/#comment-9</link>
		<dc:creator>arifin</dc:creator>
		<pubDate>Mon, 22 Jun 2009 17:27:05 +0000</pubDate>
		<guid isPermaLink="false">http://jabier.blog.friendster.com/2005/05/shalat-berbahasa-indonesia-sebuah-ijtihad/#comment-9</guid>
		<description>SUMBER KELEMAHAN INDONESIA TERUTAMA ADALAH KARENA SEKITAR 80% MUSLIMUN TAK HAFAL TERJEMAHAN FATIHAH.
GIMANA CARA CEPAT MENGATASINYA AGAR KUAT, SEJAHTERA?</description>
		<content:encoded><![CDATA[<p>SUMBER KELEMAHAN INDONESIA TERUTAMA ADALAH KARENA SEKITAR 80% MUSLIMUN TAK HAFAL TERJEMAHAN FATIHAH.<br />
GIMANA CARA CEPAT MENGATASINYA AGAR KUAT, SEJAHTERA?</p>
]]></content:encoded>
	</item>
	<item>
		<title>By: Jody</title>
		<link>http://jabier.blog.friendster.com/2005/05/shalat-berbahasa-indonesia-sebuah-ijtihad/#comment-8</link>
		<dc:creator>Jody</dc:creator>
		<pubDate>Wed, 11 May 2005 04:12:26 +0000</pubDate>
		<guid isPermaLink="false">http://jabier.blog.friendster.com/2005/05/shalat-berbahasa-indonesia-sebuah-ijtihad/#comment-8</guid>
		<description>Mas Agus yang baik,
Metodologi pendekatan dalam bidang keilmuan dan juga fiqh, sah-sah saja dilakukan oleh orang yang ahlinya, seperti yang saya sebut dalam hal ijtihad politik Amien Rais, dll. Yang dilakukan oleh Usman Roy bukan lagi metodologi pendekatan, karena sudah menyentuh aspek amaliah ibadah. Tidak bisa juga dianalogikan dengan pendekatan Kanjeng Sunan Kalijaga, karena yang beliau lakukan bukan dalam dimensi amaliah ibadah, tapi mu'amalah dan metode dakwah. Tentulah Kanjeng Sunan Kalijaga yang mulia akan memperkenalkan Shalat berbahasa Jawa, jika itu dimungkinkan sebagai pendekatan dakwah beliau, tapi kan tidak ?

Shalat "Waktu Telu",memang dianut sebagian kecil kaum Sasak di Lombok, kebanyakan berpusat di Tanjung dan Rinjani. Tentunya, ini harus menjadi perhatian para mubaligh dan ustadz, agar jumlah mereka yang menganut (sudah semakin sedikit) berangsur-angsur hilang dengan dakwah yang baik.

Usul Mas Agus mengenai pendekatan dua bahasa dalam pendidikan Agama, sangat baik. Semoga menjadi perhatian dari pengambil keputusan dalam bidang pendidikan.

Denpasar, Mei 2005
Salam,
Jabier
</description>
		<content:encoded><![CDATA[<p>Mas Agus yang baik,<br />
Metodologi pendekatan dalam bidang keilmuan dan juga fiqh, sah-sah saja dilakukan oleh orang yang ahlinya, seperti yang saya sebut dalam hal ijtihad politik Amien Rais, dll. Yang dilakukan oleh Usman Roy bukan lagi metodologi pendekatan, karena sudah menyentuh aspek amaliah ibadah. Tidak bisa juga dianalogikan dengan pendekatan Kanjeng Sunan Kalijaga, karena yang beliau lakukan bukan dalam dimensi amaliah ibadah, tapi mu&#8217;amalah dan metode dakwah. Tentulah Kanjeng Sunan Kalijaga yang mulia akan memperkenalkan Shalat berbahasa Jawa, jika itu dimungkinkan sebagai pendekatan dakwah beliau, tapi kan tidak ?</p>
<p>Shalat &#8220;Waktu Telu&#8221;,memang dianut sebagian kecil kaum Sasak di Lombok, kebanyakan berpusat di Tanjung dan Rinjani. Tentunya, ini harus menjadi perhatian para mubaligh dan ustadz, agar jumlah mereka yang menganut (sudah semakin sedikit) berangsur-angsur hilang dengan dakwah yang baik.</p>
<p>Usul Mas Agus mengenai pendekatan dua bahasa dalam pendidikan Agama, sangat baik. Semoga menjadi perhatian dari pengambil keputusan dalam bidang pendidikan.</p>
<p>Denpasar, Mei 2005<br />
Salam,<br />
Jabier</p>
]]></content:encoded>
	</item>
	<item>
		<title>By: Agus</title>
		<link>http://jabier.blog.friendster.com/2005/05/shalat-berbahasa-indonesia-sebuah-ijtihad/#comment-7</link>
		<dc:creator>Agus</dc:creator>
		<pubDate>Wed, 11 May 2005 03:21:54 +0000</pubDate>
		<guid isPermaLink="false">http://jabier.blog.friendster.com/2005/05/shalat-berbahasa-indonesia-sebuah-ijtihad/#comment-7</guid>
		<description>Bang Jody, Cukup luas dan dalam pembahasannya ini dan tentu masih mengingat syarat-syarat tentang seseorang boleh berijtihat. Saya masih ingat dulu seorang guru ngaji yang saya hormati bercerita bahwa Syech Imam Nawawi pernah ditanya oleh para muridnya, tentang kenapa beliau tidak melakukan ijtihat sendiri. kita tentu tahu dari kisah yang sampai ke kita tentang ketinggian ilmu Imam Nawawi. Tetapi beliau dengan andap - ashor mengatakan : "Saya lebih aman ikut Imam Syafi'i".

Mungkin Ustadz Usman, memandang mengapa banyak dari orang yang sholat ternyata tidak mengerti/tidak membawa efek dalam kehidupan sehari2. Sholatnya tidak bisa mencegah dari berbuat keji dan mungkar. Sholat iya, Maksiat jalan terus. Kalau dari berita di tv, komentar seorang santrinya mengatakan dengan sholat dwi bahasa  yang dilakukannya membuat dia mengerti tentang sholat, sehingga kalau mau berbuat dosa menjadi malu dan akhirnya tidak jadi.

Mungkin juga Ustadz Usman bukan berijtihat tetapi lebih kearah metodologi pendekatan terhadap santri-santrinya ( akan tetapi karena memang perkembangan teknologi yang begitu tinggi sehingga keburu tersebar luas -- sampai MUI ikut turun tangan, dan menuai beberapa protes ). Saya jadi ingat bagaimana metode Kanjeng Sunan Kalijaga untuk memasukkan pandangan-pandangan Islamnya ke dalam Wayang, dan mengajarkan ke kakek nenek kita masa itu. Juga, mohon dikoreksi kalau salah, Di salah satu daerah di indonesia ada "Islam Telu", dimana muslim disana hanya menjalankan sholat 3 waktu. yang mungkin masa itu, pemeluknya baru diajari 3 waktu oleh penyebar Islam masa itu.

Sempat juga ada sedikit protes dari seseorang yang saya hormati saat saya masih smp dulu, kenapa toh kitab-kitab kuning itu semua berbahasa arab, kenapa gak ada yang berbahasa indonesia atau berbahasa jawa, sehingga bisa dipelajari oleh beliau. Tetapi alhamdulillah sekarang sudah banyak pengarang-pengarang muslim kita yang menerjemahkan/menuliskan karya-karya dalam bahasa indonesia.

Nah satu hal yang mungkin saya tarik hikmah dari kejadian sholat dwi bahasa, Ustad Usman ini, adalah .. Pendidikan kita tampaknya memang harus terus dikembangkan. Bahasa Qur'an (Bahasa dimana Qur'an diturunkan) perlu lebih disosialisasikan untuk lebih menjembatani pemahaman tentang Islam ini. Kalau bahasa inggris minimal pasif, kenapa nggak disosialiasikan Bahasa Qur'an pasif. Syukur-syukur kalau aktif.

Demikian pemahaman saya yang masih dangkal, monggo dikoreksi.

Kudus,
</description>
		<content:encoded><![CDATA[<p>Bang Jody, Cukup luas dan dalam pembahasannya ini dan tentu masih mengingat syarat-syarat tentang seseorang boleh berijtihat. Saya masih ingat dulu seorang guru ngaji yang saya hormati bercerita bahwa Syech Imam Nawawi pernah ditanya oleh para muridnya, tentang kenapa beliau tidak melakukan ijtihat sendiri. kita tentu tahu dari kisah yang sampai ke kita tentang ketinggian ilmu Imam Nawawi. Tetapi beliau dengan andap - ashor mengatakan : &#8220;Saya lebih aman ikut Imam Syafi&#8217;i&#8221;.</p>
<p>Mungkin Ustadz Usman, memandang mengapa banyak dari orang yang sholat ternyata tidak mengerti/tidak membawa efek dalam kehidupan sehari2. Sholatnya tidak bisa mencegah dari berbuat keji dan mungkar. Sholat iya, Maksiat jalan terus. Kalau dari berita di tv, komentar seorang santrinya mengatakan dengan sholat dwi bahasa  yang dilakukannya membuat dia mengerti tentang sholat, sehingga kalau mau berbuat dosa menjadi malu dan akhirnya tidak jadi.</p>
<p>Mungkin juga Ustadz Usman bukan berijtihat tetapi lebih kearah metodologi pendekatan terhadap santri-santrinya ( akan tetapi karena memang perkembangan teknologi yang begitu tinggi sehingga keburu tersebar luas &#8212; sampai MUI ikut turun tangan, dan menuai beberapa protes ). Saya jadi ingat bagaimana metode Kanjeng Sunan Kalijaga untuk memasukkan pandangan-pandangan Islamnya ke dalam Wayang, dan mengajarkan ke kakek nenek kita masa itu. Juga, mohon dikoreksi kalau salah, Di salah satu daerah di indonesia ada &#8220;Islam Telu&#8221;, dimana muslim disana hanya menjalankan sholat 3 waktu. yang mungkin masa itu, pemeluknya baru diajari 3 waktu oleh penyebar Islam masa itu.</p>
<p>Sempat juga ada sedikit protes dari seseorang yang saya hormati saat saya masih smp dulu, kenapa toh kitab-kitab kuning itu semua berbahasa arab, kenapa gak ada yang berbahasa indonesia atau berbahasa jawa, sehingga bisa dipelajari oleh beliau. Tetapi alhamdulillah sekarang sudah banyak pengarang-pengarang muslim kita yang menerjemahkan/menuliskan karya-karya dalam bahasa indonesia.</p>
<p>Nah satu hal yang mungkin saya tarik hikmah dari kejadian sholat dwi bahasa, Ustad Usman ini, adalah .. Pendidikan kita tampaknya memang harus terus dikembangkan. Bahasa Qur&#8217;an (Bahasa dimana Qur&#8217;an diturunkan) perlu lebih disosialisasikan untuk lebih menjembatani pemahaman tentang Islam ini. Kalau bahasa inggris minimal pasif, kenapa nggak disosialiasikan Bahasa Qur&#8217;an pasif. Syukur-syukur kalau aktif.</p>
<p>Demikian pemahaman saya yang masih dangkal, monggo dikoreksi.</p>
<p>Kudus,</p>
]]></content:encoded>
	</item>
</channel>
</rss>
