Negeri Gempa

April 24th, 2005 by jabier

Isak tangis dan kesedihan kita atas musibah Tsunami Aceh belum lagi reda, ketika kita dihadapkan dengan musibah gempa di pulau kecil nun jauh di Sumatera sana, Nias.  Kembali kita menangis, terharu, dan mungkin beberapa orang, termasuk saya, bergumam dalam hati : "Belum cukupkah Engkau timpakan azab bagi kami, Ya Allah ? "

Kemudian gunung-gunung pun mulai menunjukkan aktivitas mendebarkan hati penduduk kota  : Padang, Manado, dan Anak Krakatau di Selat Sunda. Satu bencana belum selesai, bencana lain datang silih berganti.

Gempa. Kekuatan maha hebat inilah yang menghancurkan Sodom dan Gomorah akibat perbuatan mereka yang menentang Tuhan, dan kemanusiaan secara umum. Gempa juga yang menelan Qarun, sang millioner di jaman Nabi Musa as, beserta seluruh harta benda miliknya ke dalam bumi. Dan gempa pula, yang diikuti tsunami, yang menelan lebih dari 100 ribu nyawa saudara-saudara kita di Aceh , Desember lalu.

Apakah tingkah laku kami sudah benar2 melewati batas, Tuhanku ? Atau Engkau menyamakan kami dengan penduduk Sodom dan Gomorah ? Atau sebagian dari kami yang Engkau beri kelebihan rezeki, berlagak seperti Qarun-Qarun baru di jaman modern ? Dan orang-orang yang diberi amanat sebagai pemimpin, bertingkah seperti Fir’aun ?

Negeri Gempa,
Dan ketika bumi diguncangkan,
dan gunung gemunung dilantakkan,
Adakah engkau mengambil pelajaran ?

Denpasar, April 2005

Mas Jabier

Film dan Kehidupan : Connected ?

April 24th, 2005 by jabier

Saya yakin, kita semua pasti pernah menikmati sebuah hiburan yang disebut film, entah itu dalam bioskop kelas satu, ruang keluarga yang nyaman bersama keluarga, atau bahkan bioskop yang terkenal dengan istilah "Misbar" alias Gerimis bubar. Saya tidak tahu apakah bioskop jenis terakhir masih ada (di pinggiran Jakarta), seingat saya sewaktu kecil dulu bioskop jenis ini masih laku, terutama di acara-acara perkawinan, sunatan dll dengan film2 tahun 80-an jenis action dengan tokohnya seperti Barry Prima (protagonis), Advent Bangun(antagonis), Suzanna, Eva Arnaz dll.

Saya ingat pertama kali diajak oleh Ayah saya menonton bioskop bersama adik saya, sekitar umur 9 tahun (kelas III SD). Film yang kami tonton waktu itu adalah "Django" yang dibintangi Franco Nero, bercerita mengenai koboi jago tembak, pahlawan yang membasmi kejahatan. Saya juga bingung kok bisa masuk bioskop waktu itu, padahal umur saya belum cukup .. apalagi jika melihat bahwa di film itu ada adegan2 yang "belum" boleh saya tonton..he..he..he.

Setelah beberapa lama, saya sudah berani menonton film bersama teman, atau bahkan sendiri. Bahkan jaman marak film kolosal yang diangkat dari Sandiwara Radio, saya bersama ibu dan adik berdesak-desakan di Mayestic Theater untuk menonton premiere film tersebut (kalau tidak salah,..Satria Madangkara, dengan tokoh utama Brama Kumbara). Untungnya televisi kita waktu itu hanya memiliki satu channel (TVRI only), kalau saja saya bisa melihat film animasi Hollywood di jaman itu, tentu saya pasti terbahak-bahak menyaksikan replika burung yang dinaiki Brama Kumbara, yang sangat "tidak realistis"..

Mari kita masuk ke topik utama : Apakah film, dalam tingkatan tertentu dapat mempengaruhi sikap manusia ? Saya menjawab : "Tentu." Ketika menyaksikan sebuah tontonan, entah musikal atau tidak, selalu ada nilai yang berproses dalam diri manusia. Nilai-nilai itu akan berinteraksi dengan raw material si manusia, dan dalam level selanjutnya akan mempengaruhi atau bahkan memotivasi tindakan-tindakannya di masa depan.

Ada beberapa film yang pernah sangat mempengaruhi saya, sebut saja Cross Roads (Ralph Machio, Joe Seneca) yang menambah kecintaan saya terhadap blues music dan "menggigit" saya untuk mempelajari instrumen gitar di tahun ‘89, Ghost (Demi Moore, Patrick Swayze) yang saya tonton di Kalibata sehabis pelantikan Paskibra di tahun 92, dan saya jadi tahu kenapa banyak KDM (Korban Demi Moore) waktu itu he..he..he.., Dancing With Wolves (Kevin Costner, dan dia mendapatkan Oscar untuk film ini) yang mengantarkan saya pada pemahaman dan penghormatan atas nilai2 kemanusiaan dan patriotisme (bahkan saya menontonnya 3 x), Braveheart (Mel Gibson) tahun ‘94 yang mengajarkan saya kekuatan sebuah prinsip., dan beberapa yang lain.

Begitu kuatnya nilai-nilai yang ditanamkan dalam film-film tersebut, sehingga,.bahkan saya masih mengingat beberapa detail dialog dan scene (atau ini karena saya memiliki photographic memory..he..he..he..??).

Yang pasti, film pasti mempengaruhi kehidupan kita. Tinggal bagaimana kita menangkap, mengolah dan mengambil nilai-nilai yang kita anggap baik, dan membuang yang tidak sesuai.

Of course, it’s not that simple, apalagi jika kita memiliki selera untuk menonton film-film yang tidak "bermutu"  :)

Salam,

Mas Jabier